Rembulan


Ketika yang ditunggu tak kunjung datang. Kadang kurasakan saja kekecewaannya yang meradang. Menentang hati yang sebenarnya amat pilu untuk sekedar rindu. Belenggu yang melumpuhkan asa menjadi tak bersapa. Siapa akan mengadukan, jika mulut ini hanya tersimpul pada gerutu. Menderu mengalahkan sang guntur yang menemani mesra badai hujan.
Lalu kepadanya aku menyeru. Menengadahkan dagu. Mempersembahkan rindu.
Biar kau hanyutkan rindu ini dengan kilatanmu yang menderu. Dengan hujan yang mengiringimu. Agar ia mengadu pada rindu yang kutuju.

Masih pada yang kutunggu. Yang belum juga datang. Kadang keengganan membangkitkanku agar menghapus rindu. Aku tak pernah peduli. Kecuali yang kurindukan tak lagi merinduiku.

Kugantikan pada sinar yang memancar. Lancar mengenai titik ujung gedung megah di perkotaan. Angan yang menjadi satu pada gemerlap bulan. Rembulan. Kemudian untuk selanjutnya, kutitipkan saja rindu ini kepadamu. Lalu kau pancarkan pada yang kurindu.

Tak sempat aku menunggu. Mengadu pada penantian panjang yang mulai mengurai rasa. Masa yang mendadak berhenti lama. Sama dengan mereka yang bermain waktu dengan kosong.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.