Berbeda Bukan Penghalang - Sebuah Biografi

Ezza Tania yang biasa disapa Ezza atau Echa oleh kedua orang tuanya, terlahir di Menggala, Lampung pada 29 Mei. Lahir menjadi anak kedua dari empat bersaudara. Masuk di usia enam tahun, Ezza tumbuh cerdas meski tidak banyak bicara dan cenderung pemalu. Karakternya itu membuatnya tidak jarang menjadi bahan bully-an teman-temannya. Ditambah lagi dengan left-handed, membuatnya semakin tidak percaya diri karena sering dipandang sebelah mata. Hal-hal tersebut hanya bisa dia tulis di buku diary nya atau dia lafalkan dalam doa-doanya. Beruntungnya dia juga termotivasi dengan salah satu gurunya yang 'berbeda' serta adik laki-lakinya yang selalu membelanya.





Pendidikannya dimulai dari bangku sekolah dasar yang jaraknya beberapa meter dari rumah. Tanpa banyak teman di rumahnya, akhirnya dia mengisi waktu setelah pulang sekolah dengan membantu uwaknya menggulung benang renda.  Orang tuanya sibuk mencari nafkah demi menghidupi tiga orang anak yang jaraknya berdekatan.


Masa yang menyenangkan untuknya adalah saat duduk di Sekolah Menegah Pertama. Rasa percaya dirinya mulai bangkit karena para guru menyukai kepatuhannya mengikuti pelajaran di sekolah. Dia mulai memberanikan diri tampil menunjukkan kemampuannya dalam berpidato bahasa inggris.


Berlanjut ke Masa SMA yang menjadi masa paling mengesankan untuknya. Dia lebih berani lagi untuk aktif ikut dalam kegiatan ekstrakurikuler. Mulai dari menari, Pramuka sampai Rohis, semua itu semata-mata untuk mengasah keberaniannya tampil di depan umum.  Berkat ketekunannya, dia selalu menjadi kandidat dalam pemilihan beberapa ketua ekskul, namun ia memutuskan untuk fokus di Pramuka sebagai Pradana Putri. Teman-temannya tidak lagi memandangnya sebelah mata. Gadis yang bercita-cita menjadi guru ini semakin bersemangat, "berbeda" bukan jadi halangan untuk bisa dan lebih baik dari mereka.


Selepas lulus SMA, Dia mulai dilema antara memilih bekerja yang menghasilkan uang atau kuliah yang butuh banyak uang. Kondisi keuangan keluarganya menjadi pertimbangan berat untuknya. Ibunya tidak menjanjikan akan membiayainya sampai selesai kuliah karena alasan biaya. Dia hampir saja mengubur impiannya menjadi mahasiswa.


Bak dewa penolong, saat itu dia dikunjungi oleh temannya yang menawarkan kuliah bersamanya di universitas swasta. Tanpa berpikir panjang serta restu dari orang tua, dia mengikuti tes di Universitas Bandar Lampung, dan mendapat beasiswa berprestasi. 


Masuk di semester tiga kuliahnya, dia memutuskan untuk hijrah mengenakan pakaian syar'i. Ujian terus datang, tapi tak mengurungkan niatnya untuk selalu istiqomah di jalan-Nya. Salah satu ujian terberat dalam hidupnya saat itu adalah kehilangan adik laki-laki yang paling dia cintai. Andai saja tidak ada kekuatan iman, mungkin dia sudah gila karena terus menangis dan setiap Maghrib tiba selalu duduk menanti kepulangan adiknya. Namun, sahabat dan guru-gurunya selalu memberikan semangat untuk terus bangkit dan mengikhlaskan kepergian adik itu lebih baik.


Pekerjaan pertamanya dia lakoni saat kuliah di semester enam. Dia bergabung di salah satu bisnis MLM, yang membuatnya bekerja sangat keras hingga selalu pulang malam. Hal tersebut menjadi beban baginya, hingga dia memutuskan untuk berhenti karena kurang nyaman.


Setelah menyelesaikan kuliahnya pada Desember 2014, di Universitas Bandar Lampung dengan jurusan Pendidikan, dia kemudian menjadi asisten program di Cita Sehat Foundation selama enam bulan. Belum selesai kontrak, dia diberikan Scholarship Management Officer di Indonesia Juara Foundation (IJF) Lampung. Dia pun menjalani kedua pekerjaan sekaligus selama satu bulan. IJF adalah lembaga sosial yang bergerak dibidang pendidikan, baik berupa pemberian beasiswa atau sekolah juara kepada anak-anak yatim dan dhuafa.


Sampai saat ini, dia tercatat menjadi relawan kemanusiaan Rumah Zakat dan mengabdikan diri menjadi Koordinator Pendidikan Kaum Dhuafa di Yayasan Indonesia Juara Cabang Lampung. Kesukaannya di bidang menulis membuatnya bergabung dengan Komunitas ODOP (One Day One Post) Batch 6. Aktif tergabung di Komunitas ini hingga membuahkan beberapa karya berupa buku-buku antologi diantaranya, Narasi Bumi Langit (2019), Lamat-lamat Taat (2019), dan kumpuis, Di Batas Kota (2019), Selembar Kertas Ujian (2019).




- Sukses memang harus diraih dengan kerja keras, meski ukuran sukses setiap orang berbeda, namun kepuasan dalam mencapai sukses bisa dirasakan saat berada pada prosesnya, dengan menikmatinya. -


Silahkan berkenalan via media sosialnya;
💛 fb : Ezza Echa Tania
💛 instagram : @ezza_echaxxix

Sukses selalu Kak Ezza! 😉




catatanatiqoh, 03 November 2019



#TantanganPekan8(Biografi)
#OneDayOnePost
#KomunitasODOP
#ODOPBatch7

13 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.