Prinsip pemberantasan terhadap penyakit “Food and Water Borne Disease”.

Hepatitis A

1. Identifikasi

HAV relatif stabil dan dapat bertahan selama beberapa jam pada ujung jari dan tangan dan sampai dua bulan pada permukaan kering, tetapi dapat dinonaktifkan dengan pemanasan sampai 185 ° F (85 ° C) atau lebih tinggi selama satu menit atau permukaan desinfektan dengan 1: 100 cairan sodium hipoklorit (pemutih rumah tangga) dalam air keran (Komite Penasehat Imunisasi Praktek [ACIP], 2006; CDC, 2009c; Todd et al, 2009.). Namun, HAV masih dapat menyebar dari makanan matang jika sudah terkontaminasi setelah memasak.
Hepatitis A dapat terjadi tanpa gejala sama sekali ketika diderita, terutama pada anak-anak. Individu seperti itu hanya akan tahu bahwa mereka terinfeksi (dan telah menjadi kebal - kita hanya bisa mendapatkan hepatitis A sekali) dengan mendapatkan tes darah di kemudian hari. Sekitar 10 sampai 12 hari setelah terkena, HAV hadir dalam darah dan dikeluarkan melalui sistem empedu ke tinja (CDC, 2009c). Titer puncak terjadi selama 2 minggu sebelum mulai sakit. Walaupun virus hadir dalam darah, konsentrasinya jauh lebih tinggi dalam tinja. Ekskresi virus mulai menurun pada awal penyakit klinis, dan menurun secara signifikan sebesar 7 sampai 10 hari setelah onset gejala. Kebanyakan orang terinfeksi Hepatitis A tidak lagi mengeluarkan virus dalam tinja pada minggu ketiga penyakit. Anak-anak mungkin mengeluarkan virus lebih lama dari orang dewasa.
Secara umum, gejala biasanya berlangsung kurang dari 2 bulan, meskipun 10% sampai 15% dari orang bergejala telah lama atau kambuh penyakit hingga 6 bulan. Dapat terjadi kambuh, biasanya dalam tiga bulan dari awal timbulnya gejala. Meskipun kambuh lebih sering terjadi pada anak-anak, hal itu terjadi dengan beberapa keteraturan pada orang dewasa. Sebagian besar orang yang hepatitis A sepenuhnya akan pulih, dan tidak mengembangkan hepatitis kronis. Orang tidak membawa hepatitis A dalam jangka panjang dengan hepatitis B dan C.
Kematian kasus dilaporkan terjadi berkisar antara 0.1% - 0.3%, meskipun kematian meningkat menjadi 1.8% pada orang dewasa dengan usia lebih dari 50 tahun; seseorang dengan penyakit hati kronis apabila terserang hepatitis A akan meningkat risikonya untuk menjadi hepatitis A fulminan yang fatal. Pada umumnya, hepatitis A dianggap sebagai penyakit dengan case fatality rate yang relatif rendah.
Diagnosis ditegakkan dengan ditemukannya antibodi IgM terhadap virus hepatitis A (IgM anti-HAV) pada serum sebagai pertanda yang bersangkutan menderita penyakit akut atau penderita ini baru saja sembuh. IgM anti-HAV terdeteksi dalam waktu 5-10 hari setelah terpajan. Diagnosa juga dapat ditegakkan dengan meningkatnya titer antibodi spesifik 4 kali atau lebih dalam pasangan serum, antibodi dapat dideteksi dengan RIA atau ELISA. (Kit untuk pemeriksaan IgM dan antibodi total dari virus tersedia luas secara komersial). Apabila pemeriksaan laboratorium tidak memungkinkan untuk dilakukan, maka bukti-bukti epidemiologis sudah dapat mendukung diagnosis.

2. Penyebab penyakit
Penyebab penyakit adalah virus hepatitis A (HAV), picornavirus berukuran 27-nm (yaitu virus dengan positive strain RNA). Virus tersebut dikelompokan kedalam Hepatovirus, anggota famili Picornaviridae.

3. Distribusi penyakit
Tersebar di seluruh dunia, muncul sporadis dan sebagai wabah, dahulu dengan kecenderungan muncul secara siklis. Di negara sedang berkembang, orang dewasa biasanya sudah kebal dan wabah hepatitis A (HA) jarang terjadi. Namun adanya perbaikan sanitasi lingkungan di sebagian besar negara di dunia ternyata membuat penduduk golongan dewasa muda menjadi lebih rentan sehingga frekuensi terjadi KLB cenderung meningkat. Di negara-negara maju, penularan penyakit sering terjadi karena kontak dalam lingkungan keluarga dan kontak seksual dengan penderita akut, dan juga muncul secara sporadis di tempat-tempat penitipan anak usia sebaya, menyerang wisatawan yang bepergian ke negara dimana penyakit tersebut endemis, menyerang pengguna suntikan pecandu obat terlarang dan pria homoseksual.
Hepatitis A jauh lebih umum terjadi di negara-negara dengan sistem sanitasi terbelakang. Didaerah dengan sanitasi lingkungan yang rendah tersebut, infeksi umumnya terjadi pada usia sangat muda. Di Amerika Serikat, 33% dari masyarakat umum terbukti secara serologis sudah pernah terinfeksi HAV. Dinegara maju wabah sering berjalan dengan sangat lambat, biasanya meliputi wilayah geografis yang luas dan berlangsung dalam beberapa bulan; wabah dengan pola ”Common source” dapat meluas dengan cepat.
Penyakit ini sangat umum menyerang anak-anak sekolah dan dewasa muda. Pada tahun-tahun belakangan ini, KLB yang sangat luas penularannya umumnya terjadi di masyarakat, namum KLB karena pola penularan ”Common source” berkaitan dengan makanan yang terkontaminasi oleh penjamah makanan dan produk makanan yang terkontaminasi tetap saja terjadi. KLB pernah dilaporkan terjadi diantara orang-orang yang bekerja dengan primata yang hidup liar.

4. Reservoir
Manusia berperan sebagai reservoir, jarang terjadi pada simpanse dan primata bukan manusia yang lain.

5. Cara penularan
Hepatitis A adalah penyakit menular yang menyebar dari orang ke orang. Hal ini ditularkan oleh "fecal - oral," umumnya dari orang-, orang ke-, atau melalui makanan yang tercemar atau air. Makanan -terkait wabah biasanya dikaitkan dengan kontaminasi makanan selama persiapan oleh seorang penangan makanan HAV-terinfeksi (CDC, 2009c). Para penangan makanan umumnya tidak sakit: waktu puncak infektifitas (yaitu, ketika virus paling hadir dalam tinja individu infeksi) terjadi selama 2 minggu sebelum sakit dimulai. Produk segar terkontaminasi selama pembudidayaan, pemanenan, pengolahan, dan distribusi juga menjadi sumber hepatitis A (Fiore, 2004). Sumber KLB dengan pola ”Common source”umumnya dikaitkan dengan air yang tercemar, makanan yang tercemar oleh penjamah makanan, termasuk makanan yang tidak dimasak atau makanan matang yang tidak dikelola dengan baik sebelum dihidangkan.
Meskipun konsumsi makanan yang terkontaminasi adalah sarana umum untuk tersebarnya hepatitis A, mungkin juga ditularkan melalui hubungan rumah tangga antara keluarga atau teman sekamar, kontak seksual, dengan konsumsi air yang tercemar atau kerang (seperti kerang), dan inokulasi langsung dari orang berbagi obat terlarang. Anak-anak sering mengalami infeksi tanpa gejala dan dapat melewati virus melalui bermain biasa, sehingga tidak diketahui orang tua mereka, yang kemudian dapat terinfeksi dari kontak dengan anak-anak mereka.

6. Masa inkubasi
Masa inkubasi adalah 15 sampai dengan 50 hari, rata-rata 28-30 hari.

7. Masa penularan
Dari berbagai penelitian tentang cara-cara penularan pada manusia dan dari berbagai bukti epidemiologis menunjukkan bahwa infektivitas maksimum terjadi pada hari-hari terakhir dari separuh masa inkubasi dan terus berlanjut sampai beberapa hari setelah timbulnya ikterus (atau pada puncak aktivitas aminotransferase pada kasus anicteric). Pada sebagian besar kasus kemungkinan tidak menular pada minggu pertama setelah ikterus, meskipun ekskresi virus berlangsung lebih lama (sampai 6 bulan) telah dilaporkan terjadi pada bayi dan anak-anak. Ekskresi kronis HAV dalam tinja tidak pernah dilaporkan terjadi.
Tujuh puluh persen infeksi hepatitis A pada anak-anak muda dari usia enam tahun tidak menunjukkan gejala. Pada anak-anak yang lebih tua dan orang dewasa, infeksi cenderung menunjukan gejala dengan lebih dari 70% dari mereka terinfeksi penyakit kuning mulai berkembang (CDC, 2009c). Gejala biasanya dimulai sekitar 28 hari setelah tertular HAV, tetapi dapat dimulai pada awal 15 hari atau akhir 50 hari setelah terpapar dan termasuk keluhan nyeri otot, sakit kepala, anoreksia (kehilangan nafsu makan), ketidaknyamanan perut, demam, dan malaise. Setelah beberapa hari gejala tersebut, sakit kuning (juga disebut "ikterus"). Penyakit kuning adalah menguningnya kulit, mata dan mukosa membran yang terjadi karena empedu mengalir buruk melalui hati dan punggung sampai ke dalam darah. Urin juga akan berubah gelap dengan empedu dan lampu tinja dari kurangnya empedu. Ketika penyakit kuning merasuk, manifestasi sistemik awal (seperti demam dan sakit kepala) mulai mereda.

8. Kerentanan dan kekebalan
Semua orang rentan terhadap infeksi. Individu yang berisiko tinggi terkena hepatitis A, misalnya pria homoseksual, para pemakai obat-obatan terlarang dengan suntikan dan yang bekerja dengan primata yang terinfeksi HAV atau yang bekerja di tempat-tempat riset penelitian HAV.
Penyakit ini pada bayi dan anak-anak prasekolah jarang sekali menunjukkan gejala klinis, hal ini sebagai bukti bahwa infeksi ringan dan anicteric umum terjadi. Imunitas homologous setelah mengalami infeksi mungkin berlangsung seumur hidup.

9. Cara-cara pemberantasan
- Cara pencegahan
• Berikan penyuluhan kepada masyarakat tentang sanitasi yang baik dan higiene perorangan dengan penekanan khusus tentang pentingnya untuk mencuci tangan secara benar dan pembuangan tinja pada jamban yang saniter.
• Sediakan fasilitas pengolahan air bersih, sistem distribusi air yang baik dan sistem pembuangan air limbah yang benar.
• Hepatitis A dapat dicegah dengan vaksinasi. Vaksinasi dapat diberikan sejak usia 2 tahun, diberikan dua kali dengan interval 6-12 bulan dan memberikan perlindungan jangka panjang. Sekitar satu bulan setelahnya, sekitar 90% orang membentuk antibodi yang protektif. Vaksinasi kedua bertujuan meningkatkan antibodi dan memastikan jumlahnya cukup banyak agar bersifat protektif.
• Para penangan makanan harus selalu mencuci tangan dengan sabun dan air setelah menggunakan kamar mandi, mengganti popok, dan tentunya sebelum menyiapkan makanan. Para penangan makanan harus selalu memakai sarung tangan jika menangani atau menyiapkan makanan, meskipun sarung tangan bukan pengganti cuci tangan yang baik. Jika memang penangan sudah terinfeksi, penjamah makanan harus dikeluarkan dari pekerjaan.
• Pengelolaan tempat penitipan anak dan panti-panti asuhan sebaiknya menekankan kepada upaya untuk mengurangi kemungkinan terjadi penularan melalui rute fekal-oral, termasuk dengan memberdayakan kebiasaan cuci tangan setiap saat dari toilet setelah mengganti popok dan sebelum makan.
• Semua wisatawan yang bepergian ke daerah endemis tinggi atau sedang, termasuk Afrika, Timur Tengah, Asia, Eropa Timur, Amerika Tengah dan Selatan, perlu diberikan IG atau vaksin hepatitis A sebelum keberangkatan. Wisatawan diperkirakan terlindungi 4 minggu setelah pemberian vaksin dosis inisial tersebut. Vaksin hepatitis A diprioritaskan untuk diberikan kepada mereka yang merencanakan bepergian berulangkali atau bagi mereka yang akan tinggal dalam waktu yang cukup lama di daerah endemis HAV baik yang endemis tinggi maupun menengah.
• Tiram, kerang-kerangan yang berasal dari daerah tercemar harus dipanaskan pada suhu 85°- 90°C (185°-194°F) terlebih dahulu selama 4 menit atau diuapkan selama 90 detik sebelum dimakan.

- Penangan penderita, kontak, dan lingkungan sekitar
a. Laporan kepada instansi kesehatan setempat: Laporan wajib diberikan oleh semua wilayah yang individunya banyak terjangkit Hepatitis A.
b. Isolasi: individu yang positif terjangkit hepatitis A, perlu dilakukan kewaspadaan enterik selama 2 minggu pertama sakit, namun tidak lebih dari 1 minggu setelah timbulnya demam dengan ikterus; pengecualian dilakukan kalau KLB terjadi di tempat pelayanan intensif neonatal dimana kewaspadaan enterik harus dilakukan secara berkelanjutan.
c. Disinfeksi serentak: pembuangan tinja, urin dan darah dilakukan dengan cara yang saniter. Melakukan PHBS dengan mencuci tangan sebelum dan setelah melakukan pekerjaan atau kegiatan apapun.
d. Karantina: Tidak diperlukan
e. Imunisasi kontak: Imunisasi pasif dengan IG (IM) 0.02 ml/kg BB, harus diberikan sesegera mungkin setelah terpajan, selama 2 minggu. Oleh karena hepatitis A tidak dapat diketahui hanya dengan melihat gejala klinis saja, maka penegakan diagnosa secara serlogis dari infeksi HAV perlu dilakukan terhadap kasus index dengan pemeriksaan IgM anti-HAV, dan harus dilakukan sebelum pemberian pengobatan pasca pajanan kepada kontak. Seseorang yang sudah menerima satu dosis vaksin hepatitis A sekurang-kurangnya 1 bulan sebelum terpajan tidak memerlukan IG. IG tidak diperlukan bagi kontak dengan penderita satu kantor, satu sekolah atau satu perusahaan.
f. Investigasi kontak dan sumber infeksi: Cari kasus yang hilang dan lakukan surveilans terhadap kontak pada keluarga pasien secara terus menerus atau kalau pola KLB adalah ”Common source” maka semua penderita biasanya terpajan pada faktor risiko yang sama.
g. Pengobatan spesifik : Setelah infeksi klinis diderita, tidak ada pengobatan khusus untuk hepatitis A. Individu yang terkena umumnya menderita kehilangan nafsu makan, sehingga perhatian utama adalah memastikan pasien menerima gizi yang cukup dan menghindari kerusakan hati permanen (Mayo Clinic, 2009). Persepsi seorang individu dari keparahan kelelahan atau malaise adalah penentu terbaik dari kebutuhan untuk beristirahat

- Penanganan wabah
• Selidiki cara-cara penularan dengan teknik investigasi epidemiologis, apakah penularan terjadi dari orang ke orang atau dengan cara ”Common source” dan carilah populasi yang terpajan. Bila ditemukan musnahkan sumber infeksi “Common source”.
• Upaya spesifik untuk menanggulangi KLB harus dilakukan dengan memperhatikan karakteristik epidemiologis dari hepatitis A dan ada tidaknya program imunisasi rutin hepatitis A di masyarakat. Strategi yang mungkin dapat dilakukan antara lain a) Diwilayah dimana program imunisasi hepatitis A rutin sudah ada maka lakukan percepatan pemberian imunisasi kepada anak-anak usia lebih tua yang belum pernah mendapatkan imunisasi sebelumnya; b) Pada bentuk KLB yang lain, seperti KLB yang terjadi pada tempat penitipan anak, rumah sakit, lembaga dan sekolah, maka pemberian imunisasi hepatitis A rutin tidak dapat dijamin hasilnya; dan c) apabila sasaran pemberian imunisasi adalah kelompok atau wilayah (sebagai contoh: kelompok usia, kelompok risiko, wilayah cacah sensus), maka kelompok tersebut harus dipastikan dulu, kelompok mana yang mempunyai angka penyakit yang tertinggi, didasarkan pada surveilans setempat dan data epidemiologi.
• Lakukan upaya secara khusus untuk meningkatkan sanitasi lingkungan dan kebersihan perorangan untuk mengurangi kontaminasi makanan dan air dengan tinja.
• Apabila KLB terjadi pada institusi, maka perlu dilakukan upaya pencegahan massal dengan pemberian IG dan dipertimbangkan juga pemberian imunisasi.

- Implikasi bencana
Masalah potensial pada kelompok masyarakat dengan kepadatan hunian, sanitasi dan suplai air yang buruk; apabila ditemukan penderita maka lakukan upaya untuk memperbaiki sanitasi lingkungan dan memenuhi kebutuhan air bersih yang aman. Pemberian IG secara massal tidak dapat menggantikan upaya penanganan lingkungan.


Dapus

- Center for Disease Control and Preventation. Viral Hepatitis A. Diunduh dari http://www.cdc.gov pada 17 Maret 2011
- Chin, James. MD, MPH. 2000. Manual Pemberantasan Penyakit Menular. Edisi 17. Diterjemahkan oleh Dr. I Nyoman Kandum, MPH
- http://www.about-hepatitis.com/about_hepatitis_resources/view/C45/
- http://www.hepatitisblog.com/
- Weisberg SS. Hepatitis A. Dis Mon 2007;53(9);447-52



NAMA : JANUAR ATIQOH
NIM: E2A009003/R1
FKM UNDIP

3 komentar:

  1. terimakasih infonya,sangat bermanfaat sekali
    jangan lupa kunjungi kami di https://ittelkom-sby.ac.id/

    BalasHapus
  2. Nice info kunjungi ittelkom-sby.ac.id

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.