Cerita Kucing Hari Ini

Pagi ini aku terkejut, mendapati seekor kucing berlari dari arah dapur ke halaman belakang rumah. Bukan untuk pertama kalinya memang ada seekor kucing yang berpesta di dapurku. Tapi kali ini aku lihat kucing itu seperti tidak berdaya. Kulihat sekeliling dapur, tidak ada yang berantakan. Mungkin saja kucing ini hanya numpang tidur, pikirku.

Tak lama berselang setelah aku selesai memasak, seekor kucing itu datang lagi dari halaman belakang menuju area belakang dapurku. Tepat di bawah rak sepatu yang tertutup kardus, dia ternyata menyimpan anak-anaknya di situ, ada tiga ekor. Anak yang baru dilahirkannya, mungkin dua atau tiga hari lalu. Tampaknya sudah tidak bernyawa, atau mungkin masih terasa lemah. Aku tidak berani untuk menghampiri, hanya kuawasi dari kejauhan.

Siangnya, aku coba untuk menengoknya kembali, sang ibu kucing masih menunggui anak-anaknya. Tampak lelah dengan tatapan mata yang memelas. Aku beri dia sepotong kaki ayam. Tampaknya dia tidak tertarik. Aku tinggalkan saja, mungkin dia tidak mau kalau diawasi, pikirku.

Sampai sore tadi, aku tengok kembali keadaan si kucing-kucing itu. Sang ibu kucing sudah tidak di tempat, dan satu anaknya pun dibawa pergi olehnya. Mungkin dipindahkan tempat yang lebih aman lagi. Aku lihat sepotong kaki ayam tadi masih utuh belum tersentuh. Kubiarkan saja, kemudian kutambahkan semangkuk air di sampingnya. Kuperhatikan dua anak kucing yang ditinggalkan, sepertinya sudah tidak bernyawa. Tertidur lemah, tidak berubah posisi dari pagi tadi kuperhatikan. Badannya disemuti. Sungguh kasihan sekali. Tapi sungguh aku tidak berani untuk melihatnya lebih dekat.

Di rumah sedang sepi. Suami pergi dinas belum kembali. Aku hanya berdua dengan anakku yang masih setahun lebih. Anakku tampak senang dengan kehadiran 'teman' barunya. Dia rajin sekali mengajakku menengok kucing-kucing itu. Tapi apalah daya Nak, Ibu tak punya keberanian untuk mengambilnya.

Kemudian aku jadi teringat bagaimana letihnya saat pertama menjadi Ibu, menjaga anak sepanjang waktu. Meski saat itu rasanya masih lemah tak menentu. Tapi bahagia pasti, karena anak itulah yang ditunggu-tunggu.

Dan baru saja kulihat terakhir kondisi kucing-kucing itu. Sang ibu kucing kembali menengok dua anak kucing yang ada di bawah rak sepatuku. Saat aku coba untuk melihatnya lebih dekat, dia memandangku dengan tatapan memelas, sorot matanya tampak lemah dan lelah. Oh, sungguh aku merasakan indahnya menjadi Ibu.


#OneDayOnePost
#KomunitasODOP
#ODOPBatch7

9 komentar:

  1. MasyaAllah, terharu kucing pun punya perasaan. Kalo ada yanag jahat sama kucing. Hmmmm gk.punya perasaan mereka

    BalasHapus
  2. Kucing memang teman yang menyenangkan hehe

    BalasHapus
  3. hehe bagus mbak. tapi jujur saya takut kucing, tapi tidak pernah menyakiti kok. karena kalau lewat dia langsung menghindar atau lari hehe

    BalasHapus
  4. sedih... Makasih Kak sdah mau mencoba menolong kucing itu

    BalasHapus
  5. Rumahku sering banget dijadikan 'rumah' kucing asing kak. Karena gak tega, sering saya kasih lauk aja. Terus akhirnya sering kena marah ibuk gegara hal ini 😆

    BalasHapus
  6. Kadang kasihan sama kucing kadang sebel hehe. Mantap ceritanya ka!

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.