Kumpul Ibu-Ibu Dalam "Optimalisasi Neuro Parenting"

Minggu lalu (13/10), Kami para ibu perumahan mengadakan seminar parenting untuk pertama kalinya. Kegiatan ini merupakan rangkaian dari kegiatan RKI (Rumah Keluarga Indonesia). Apa itu RKI? Silahkan berkenalan langsung melalui websitenya.


Alhamdulillah banyak ilmu yang saya serap dari seminar tersebut. Saya akan kembali mengulas tentang ilmu yang saya dapatkan kemarin. Semoga dengan menulis, akan semakin ingat dan bisa mengikat ilmu.
Siapa yang pernah dengar istilah Neuroparenting? Sudah ada yang tahu atau sama seperti saya baru dengar pertama kali?
"Pengasuhan yang sesungguhnya adalah pengasuhan otak. Rangsangan atau stimulan yang masuk ke benak anak (melalui panca indera) akan membuat baik atau tidaknya tumbuh kembang otak anak."

Tema seminar kali ini mengenai optimalisasi neuroparenting. Materi disampaikan oleh Ibu Siti Suherni selaku perwakilan dari RKI di area perumahan kami. Neuroparenting sendiri merupakan sebuah konsep pengasuhan anak dengan mengoptimalkan pada otak anak. Neuroparenting, dikenalkan tahun 2008 oleh dr. Amir Zuhdi, seorang dokter yang menyenangi bidang otak atau neuroscience. Pada awalnya dikenal dengan istilah Neuroscience For Parenting. Agar lebih mudah diingat, disingkat menjadi  NeuroParenting. Jadi NeuroParenting adalah istilah yang dipopulerkan  oleh dokter Amir untuk menamai bagaimana cara beliau menerapkan pengasuhan anak sesuai tumbuh kembang otak anak.

Ada 9 otak asuh yang bisa memandu kita dalam mengasuh anak. Dan ilmu neuroparenting ini lebih memfokuskan bagaimana pengasuhan anak yang benar dengan berbasis pada tahapan perkembangan otak. Neuroparenting lebih fokus diterapkan pada usia anak 0-14 tahun, karena pada usia ini otak anak berkembang mencapai 95%. Pada usia ini juga merupakan usia pembentukan dasar-dasar karakter kepemimpinan pada anak yang kuat.

Kita sebagai orangtua pastinya bercita-cita ingin menerapkan pola asuh yang baik pada anak-anak. Tujuan utama pengasuhan adalah kepemimpinan anak dengan tiga karakter utamanya yaitu tangguh, cerdas dan berakhlak mulia.

Latar belakang dari konsep tersebut karena melihat banyak fenomena ketidakmatangan pengasuhan (immaturity parenting) di masyarakat kita. Jika menjadi dokter ada sekolahnya. Menjadi guru ada sekolahnya. Menjadi enginer ada sekolahnya. Namun untuk menjadi orang tua belum ada sekolahnya. Padahal, menjadi orang tua bukanlah hal yang sederhana. Alhasil, pengasuhan pada anak sering dilakukan asal-asalan. Apa yang dulu kita alami, di copy paste. Apa yang sering kita lihat, langsung dicontoh. Padahal tidak semua benar. Belum tentu semua tepat.

Maka sangat disayangkan, saat banyak orang tua mudah terbakar emosinya ketika anak rewel. Anak menjadi korban kekerasan, baik kekerasan fisik (dipukul, di jewer, dsb) maupun kekerasan verbal (labeling anak nakal, bentakan, hardikan, dsb).

Kekerasan ini tidak sederhana efeknya bagi anak, terutama jika terjadi pada usia 0 – 13 tahun. Sangat mungkin terjadi penurunan pertumbuhan neuron (sel saraf yang membangun otak).

Pengasuhan pada anak itu sebenarnya terjadi di wilayah neuron. Mengasuh anak logikanya seperti merajut. Pada usia 0-13 tahun proses tersambungnya neuron-neuron yang ada di otak terjadi dengan cepat. Jadi pentingnya belajar neuroparenting ini, untuk mengoptimalkan pertumbuhan anak dan mewaspadai apa yang dapat menghambat bahkan menghancurkannya.

Penting untuk punya bekal untuk menjadi orang tua. Bukan sekedar karena anak adalah buah hati kita, tapi lebih dari itu. Karena anak adalah amanah yang mau atau tidak mau, siap atau tidak siap, harus kita pertanggungjawabkan dihadapanNya. Semoga pengetahuan mengenai neuroparenting ini menjadi salah satu bekal untuk mengantar anak-anak menemukan kehidupan terbaiknya.

Tujuan yang inin dicapai dalam belajar neuroparenting adalah menghasilkan anak yang cerdas dan memiliki 5 skill sebagai indikator, yaitu :
💗 1. Memiliki kemampuan mengkalkulasi
Bukan sekedar menghitung angka melainkan juga dalam hal menghitung baik/buruk atau menganalisa baik/tidak.
💗 2. Memiliki ketrampilan komunikasi
Anak akan lebih berani menyampaikan masalah apapun kepada orang tua dan tidak ada kendala komunikasi dengan orang lain disekitarnya.
💗 3. Memiliki kemampuan self control
Self control ini dapat berkembang baik jika self motivationnya juga baik.
💗 4. Memiliki ketrampilan mengambil keputusan
Misalnya anak dapat memilih ingin pakai baju mana, ingin belajar apa, dan dapat menjelaskan kenapa lebih suka warna biru daripada merah.
💗 5. Memiliki ketrampilan motorik (fisik)
Misalnya baik tumbuh kembangnya, tidak mudah sakit, dapat memilih mana makanan yang baik untuk kesehatan, sadar untuk mejaga kesehatan dsb.


Kurang lebih materi dari hasil penyampaian oleh narasumber sudah saya tuliskan di atas, dan sesi diskusi berlanjut sangat semangat karena diwarnai oleh curhatan setiap ibu-ibu yang hadir. 😅

Jadi, berhati-hatilah dengan lisan dan perilaku kita terhadap anak, sebelum menyesal di kemudian hari. Semoga bermanfaat! 💗


cacatanatiqoh, 23 Oktober 2019


#OneDayOnePost
#KomunitasODOP
#ODOPBatch7

11 komentar:

  1. tiada pemenang, kau dan aku hanya bisa bertahan

    sdikit saran kak, dihadapanNya apakah mungkin baiknya dihadapan-Nya kak?
    kak jelasin dong maksud dari poin3 heheheh kepo nih
    ohiya, saran lagi kak.. ketrampilan kekurangan "e" jadi keterampilan hehe

    sebagai calon orang tua, bagaimana kak mempersiapkan neuroparenting
    unt mencapai5 skill indikator pd anak

    jazakillahu khaiiran kak, sangat membuka wawasan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih sudah mampir membaca, terima kasih atas koreksinya :)

      jd nomor 3 itu si anak jd bisa mengontrol emosinya sendiri dan itu bisa berkembang baik kalau di support dengan kita orang di sekitarnya jg. Misal anak sudah bisa tahu dia sudah mengantuk, dan kita dukung dengan mengarahkan anak untuk bersiap tidur, kurang lebih begitu yang saya tangkap mba hehehe...

      Hapus
  2. Informatif sekali tulisannya mbak..terima kasih sudah berbagi ilmu

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.