Penyelidikan Epidemiologi

Penyelidikan Epidemiologi, Tindak Lanjut dan Pencegahan dari penyakit berikut; Malaria, TB- Paru, Campak, Kematian Ibu, Lahir Mati atau Kematian Bayi

- Penyelidikan Epidemiologi merupakan penyelidikan atau survey yang bertujuan untuk mendapatkan gambaran terhadap masalah kesehatan atau penyakit secara lebih menyeluruh.

1. Penyelidikan Epidemiologi, Tindak lanjut, dan pencegahannya untuk Penyakit Malaria
Yaitu dengan pencarian penderita / tersangka Malaria lainnya dengan gejala seperti :
- Gejala malaria ringan
Demam menggigil secara berkala dan biasanya disertai sakit kepala
Pucat karena kurang darah
Kadang-kadang di mulai dengan badan terasa lemah, mual/muntah tidak nafsu makan
Gejala spesifik daerah, seperti diare pada anak
- Gejala malaria berat
Kejang-kejang
Kehilangan kesadaran
Kuning pada mata
Panas tinggi
Kencing berwarna tua
Nafas cepat
Muntah terus
Pingsan sampai koma
Jika dalam suatu wilayah tersebut tidak ditemukan penderita lagi dengan gejala tersebut, maka hanya diperlukan penyuluhan untuk warga di daerah tersebut. Penyuluhan itu untuk menghindari terjangkitnya wabah malaria, dengan cara :
a. Menghindari gigitan nyamuk, Tidur memakai kelambu, menggunakan obat nyamuk, memakai obat oles anti nyamuk, pasang kawat kasa pada ventilasi, menjauhkan kandang ternak dari rumah, kurangi berada di luar rumah pada malam hari.
b. Pengobatan pencegahan, 2 hari sebelum berangkat ke daerah malaria, minum obat doksisilin 1 x 1 kapsul/ hari sampai 2 minggu setelah keluar dari lokasi endemis malaria.
c. Membersihkan lingkungan, Menimbun genangan air, membersihkan lumut, gotong royong membersihkan lingkungan sekitar, mencegahnya dengan kentongan.
d. Menekan kepadatan nyamuk dengan menebarkan ikan pemakan jentik. Seperti ikan kepala timah, nila merah, gupi, mujair dll.

Namun, bila ternyata memang terbukti ada penderita lain dengan gejala yang sama dan itu memang terkena malaria juga, maka tidak hanya dilakukan penyuluhan namun perlu adanya pengobatan intensife untuk penderita malaria tersebut.
Ada tiga faktor yang perlu diperhatikan dalam pengobatan malaria yaitu : jenis plasmodium yang menginfeksi, keadaan klinis pasien (usia dan kehamilan) dan jenis obat yang cocok untuk plasmodium penginfeksi. Jenis obat yang cocok terggantung dari daerah geografis tempat plasmodium tersebut hidup. Hal tersebut karena adanya plasmodium yang sudah resisten terhadap beberapa obat pada daerah tertentu. Jadi pengobatan malaria tidaklah bisa dikatakan mudah. Diperlukan dokter yang berpengalaman dalam hal ini untuk dapat memberikan pengobatan yang pas.
Malaria ringan dapat diberikan obat oral sedangkan malaria berat yang mempunyai gejala klinis perdarahan harus di observasi di rumah sakit dengan pengobatan intra vena.

2. Penyelidikan Epidemiologi, Tindak lanjut, dan pencegahannya untuk Penyakit Tuberculosis Paru ( TB Paru )
Pertama yang dilakukan, kita mencari data berapa banyak penderita TB-Paru di wilayah tersebut, untuk mengetahui apa dapat digolongkan menjadi Kejadian Luar Biasa. Jika memang penderita banyak di wilayah tersebut atau di sekitarnya, maka perlu diadakan penyelidikan untuk kasus ini. Mencari penderita lain dengan gejala yang sama diderita oleh penderita TB-Paru. Seperti, batuk terus menerus dan berdahak selama 3 minggu atau lebih. Dan Gejala lain yang sering dijumpai :
• Dahak bercampur darah
• Batuk darah
• Sesak nafas dan rasa nyeri dada
• Badan lemah, nafsu makan menurun, berat badan menurun, rasa kurang enak badan(malaise), berkeringat malam walaupun tanpa kegiatan, demam meriang lebih dari satu bulan.
Jika di daerah tersebut ditemukan penderita lain yang mempunyai gejala tersebut, maka perlu segera dilakukan pengobatan. Program pengobatan dikenal dengan nama DOTS (Direct Observed Treatment Shortcourse). Obat yang digunakan adalah kombinasi dari Rifampicin, Isoniazid, Pyrazinamid, Ethambutol, dan Streptomycin. Pengobatan dilakukan dalam waktu 6-8 bulan secara intensif dengan diawasi seorang PMO (Pengawas Menelan Obat) untuk meningkatkan ketaatan penderita dalam minum obat.
Namun jika tidak ditemukan lagi penderita lain yang mempunyai gejala demikian, maka hanya perlu dilakukan penyuluhan tentang kewaspadaan terhadap bahaya TB-Paru dan penyebabnya.

3. Penyelidikan Epidemiologi, Tindak lanjut, dan pencegahannya untuk Penyakit Campak
Untuk penyelidikan kasus pada penyakit campak, sama halnya dengan penyelidikan kasus penyakit yang sebelumnya diterangkan di atas. Dengan mencari penderita lain yang mempunyai gejala sama atau mungkin terinfeksi oleh virus yang menyebabkan campak.
Penyakit campak dikategorikan sebagai penyakit campak ringan dan yang berat. Disebut ringan, bila setelah 1-2 hari pengobatan, gejala-gejala yang timbul membaik. Disebut berat bila pengobatan yang diberikan sudah tak mempan karena mungkin sudah ada komplikasi. Komplikasi dapat terjadi karena virus campak menyebar melalui aliran darah ke jaringan tubuh lainnya. Yang paling sering menimbulkan kematian pada anak adalah kompilkasi radang paru-paru (broncho pneumonia) dan radang otak (ensefalitis). Komplikasi ini bisa terjadi cepat selama berlangsung penyakitnya.
Jika memang ada penderita lain dan itu jumlahnya banyak, maka perlu diadakan pengobatan untuk mengurangi gejala dan melakukan penyembuhan total.
Sebenarnya campak adalah jenis penyakit yang sudah banyak di ketahui orang bahkan sekarang anak-anak sudah di imunisasi salah satunya imunisasi dari penyakit campak. Jadi bila ada anak-anak atau orang dewasa yang terkena campak itu sudah hal yang biasa dan campak biasanya menulari manusia sekali dalam seumur hidup. Jadi bila di temukan ada yang terkena campak segera lakukan pengobatan. Pengobatan campak dilakukan dengan mengobati gejala yang timbul.

4. Penyelidikan Epidemiologi, Tindak lanjut, dan pencegahannya untuk Kematian Ibu
Pada kasus ini, dilakukan penyelidikan dengan menganalisa data yang diperoleh berupa jumlah angka kematian ibu. Data tersebut dapat digunakan untuk mengetahui daerah mana yang paling banyak terjadi angka kematiannya. Hal tersebut dapat memberikan gambaran untuk kemudian dilakukan penyelidikan, hal apa yang dapat mengakibatkan angka kematian ibu di daerah tersebut tinggi.
Jika memang terbukti ada satu daerah yang memiliki angka kematian ibu tinggi, maka perlu dilakukan penyuluhan guna memberikan pengetahuan kepada warga lainnya, khususnya para ibu dan bapak (suaminya) faktor apa yang dapat membahayakan keselamatan ibu. Terutama saat ibu hamil dan persalinan, karena angka kematian ibu sebagian besar dipengaruhi oleh kasus tersebut. Kematian ibu bukan 100% dikarenakan suatu penyakit tetapi bisa karena pendarahan atau salah dalam penanganan saat melahirkan (kecelakaan). Oleh karena kasus ini dapat lebih relevan bila dilakukan pencegah dari pada pengobatan.
Pencegahan yang bisa di lakukan :
• Kurangi resiko melahirkan seminimal mungkin, melahirkan di rumah sakit atau melahirkan dengan di bantu tenaga medis yang sudah ahli dan pakarnya dalam hal membantu persalinan, pilih tempat yang fasilitasnya memenuhi.
• Rajin periksa ketika hamil terutama ketika waktu mau melahirkan agar abisa di rencanakan sejak dini.
• Ikuti prosedur yang sudah di tentukan oleh pemerintah. Contoh tidak boleh melahirkan di bawah umur 17 tahun.
Dengan mengetahui faktor yang dapat membahayakan keselamatan ibu, maka angka kematian ibu dapat ditekan.

5. Penyelidikan Epidemiologi, Tindak lanjut, dan pencegahannya untuk Lahir Mati/ Kematian bayi
Hampir sama dengan kasus Kematian ibu, kasus ini hanya dapat dilakukan pencegahannya, seperti mengurangi resiko bayi mati mendadak atau bayi lahir mati.
• Periksakan kandungan atau saat anak masih dalam kandungan pada dokter atau tenaga medis yang ahli dan terpercaya.
• Usahakan bayi tidur dalam boks yang tidak dipenuhi mainan Gunakan boks bayi untuk menghindari risiko jatuh. Cara ini lebih aman untuk melindunginya ketimbang meletakkan boneka, bantal ataupun selimut tebal di pinggir ranjang.
• Lindungi bayi dan anak-anak dari asap rokok. Bayi yang menghirup asap rokok mempunyai risiko yang lebih tinggi terserang sidroma mematikan ini. Tidak merokok selama kehamilan dan tidak mendekatkan bayi pada asap rokok.
Dengan melakukan beberapa tindakan pencegahan tersebut dan mengurangi faktor resiko, mungkin akan dapat mengurangi resiko bayi mati.

JANUAR ATIQOH
E2A009003
FKM UNDIP

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.