Kereta Keempat Bag. 4 - Sebuah Cerita

Aku kemudian bergegas mengambil handuk dan air untuk mengompresnya, hanya itu yang bisa kulakukan. Kubuatkan dia minuman hangat. Sepuluh menit kemudian aku kembali ke kamarnya, dan melihatnya sudah kaku. Membiru. (Kereta Keempat Bag. 3)

=============================================================================



Panik. Aku goyangkan tubuhnya berkali-kali. Aku kompres semuanya dengan air hangat sambil terus kupanggil namanya. Tetap tidak ada respon, tapi detak jantungnya masih kudengar. Aku mencari sesuatu yang sekiranya bisa membantu. Aku menemukan berbungkus-bungkus pil dengan bermacam warna. Ada jarum suntik yang sudah siap pakai. Aku berniat untuk menyuntikkannya.

Dia tersadar, setelah beberapa kali aku menyuntikan suatu cairan yang tersedia di mejanya. Aku tidak tahu. Aku hanya ingin dia bangun lagi. Aku membutuhkannya.

Lama aku pandangi wajahnya yang mulai kembali memerah. Matanya masih terpejam. Aku panggil terus namanya. Setengah jam berlalu, dia kemudian memberikan respon. Menggenggam tanganku yang kutaruh di atas pipinya. Aku terus memanggilnya, dan dia mulai bersuara. Oh Tuhan, tubuhku pun mulai menghangat. Aku mulai tenang.


" Bara, aku masih di sini." Kataku kemudian.
"Aku mau kamu bangun lagi." Lanjutku dengan nada yang mulai bergetar. Aku tidak kuat menahan air mataku.


Pukul tiga dini hari, kulihat jam digital yang ada di dekat kasur. Aku menawarkannya lagi untuk kuantar ke rumah sakit. Dia mulai tersadar. Duduk di pangkuanku. Dan tetap menolak tawaranku. Dia hanya diam memandangiku. Matanya masih merah, bibirnya masih pucat. Aku mulai menyuapinya air hangat. Habis, dan dia terpejam lagi, sepertinya tertidur lagi. Aku ikut tertidur dengan dia di pangkuanku.

" Hai, terima kasih sudah merawatku." Dia menyapaku dengan senyuman yang kusuka itu.

Hari sudah pagi rupanya, dan sinar matahari sudah mengintip masuk lewat tirai jendela kamarnya. Aku kaget, dia sudah bangun dan rapi. Tampak segar, sepertinya dia selesai mandi. Aku langsung turun dari kasur, membetulkan rambutku dan berjalan keluar kamar.

" Sudah jam berapa sekarang?' Tanyaku kemudian untuk mengurai rasa kikuk ku.
" Sudah jam delapan sayang." Jawabnya dengan senyuman itu.

Aku makin kaget, rasa kikuk ku makin bertambah. Kenapa dia memanggilku sayang, gumamku dalam hati. Apa yang dia lakukan semalam saat aku tertidur lelap. Kenapa dia sekarang sudah segar kembali seperti tidak terjadi apa-apa semalam. Semua pertanyaan itu muncul dalam pikiran.

" Aku pulang dulu." Kataku singkat kemudian. Mangambil tas, dan menuju pintu keluar sesegera mungkin.
" Tunggu Ningrum." Jawabnya tegas.

 Aku terhenti, dan menoleh ke arahnya. Dia menyerahkan satu botol penuh dengan pil yang seperti kulihat di mejanya semalam.

" Minumlah itu setiap pagi sebelum kau berangkat kerja, supaya rasa was-was mu tidak menghantui." Pesannya.
" Apa ini?" Tanyaku bingung.
" Hanya vitamin, kau membutuhkannya. Aku mau kamu baik-baik saja." Katanya kemudian.

Aku segera pergi meninggalkannya. Satu jam kemudian kami sudah bertemu lagi di kantor. Dia sudah rapi dengan seragamnya. Menyapaku seperti tanpa terjadi apapun semalam. Mengajakku lagi ke kereta keempat.

" Duduklah, aku ingin menceritakan sesuatu." Katanya membuka percakapan kami di kereta itu, sambil menyodorkan sepotong roti coklat yang dia bawa.
" Apa yang terjadi padamu Bara?" Tanyaku tak sabar ingin tahu.
" Aku hanya tidak enak badan kemarin." Jawabnya santai sambil menyuapkan roti coklatnya kepadaku.
" Kenapa memangnya?" Tanyanya kemudian.
" Tidak, aku hanya takut saja." Jawabku singkat, berusaha tanpa sedatar mungkin agar tidak terlihat khawatir.
" Kau takut kehilanganku?" Tanyanya dengan nada serius.
" Karena hanya kamu yang aku punya di sini Bara." Kataku kemudian.

Dia hanya tersenyum mendengar jawabanku. Lalu kami menghabiskan roti coklat berdua, sambil memandangi suasana pemukiman yang padat di samping stasiun ini.

" Aku dulu sering duduk di sini kalau penat dengan pekerjaanku." Katanya bercerita.
" Setiap malam jika aku harus lembur, aku akan tidur di sini." Lanjutnya.
" Rasanya damai, tenang, mendengar suara anak tertawa tanpa beban, suara ibu yang meneriaki anaknya saat sudah jam malam." Ceritanya dengan raut wajah antusias. Akupun ikut antusias mendengar ceritanya.
" Kau harus coba." Katanya kemudian, sambil memegang tanganku erat.
" Aku mau selau di dekatmu, mulai saat ini, kamu jadi yang utama di hidupku." Lanjutnya dengan suara tenang dan tatapan hangat.

Aku tercengang. Apa yang terjadi ini, tanyaku dalam hati.

=======================================================================================

(Bersambung... (Kereta Keempat Bag. 5 - Selesai))

catatanatiqoh, 01 November 2019




#TantanganPekan8(Bag.4)
#OneDayOnePost
#KomunitasODOP
#ODOPBatch7

2 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.