Cinta itu apa?

Beberapa waktu lalu. Berkenalan dengan orang baru dan mendefinisikan cinta dengan cara yang lebih bijaksana. Beliau menganggap kami hanya sekumpulan remaja yang beranjak dewasa namun masih salah mengartikan cinta. Beliau adalah bapak satpam salah satu fakultas teknik di salah satu universitas. Dan kami adalah sekelompok mahasiswa galau yang menyambut rejeki, begitu angan kami setelah mendapat wejangan beliau.

Subhanallah, siang terik itu kami diajak berdiskusi tentang arti cinta dengan beliau, tanpa sengaja. Apa yang kami tau hanyalah sebagian kecil dari yg tak kami ketahui. Sungguh cinta itu mulia kalau kita mau memahaminya. Sampai pada satu pertanyaan yang mengharuskan kami untuk mendiskripsikan apa itu cinta, sebagian besar dari kami hanya menggambarkan cinta sebagai sesuatu yang manis, yang membahagiakan, yang cantik, yang selalu dipuja. Apa yang kami tau, Beliau simpulkan dengan pernyataan yang cukup menampar detakan jantung manjadi bergerak lebih cepat. Itukah yang membuat kami, khususnya aku [selalu] merasa salah dalam memahami cinta, selalu merasa tersakiti, merasa mudah jatuh cinta. Lalu apa cinta itu? :)

Beliau mendeskripsikan dengan gambaran keluarga (sepasang suami istri) yang dapat terus bersama sampai akhir masanya. Mereka (pasangan suami istri) mengalami perubahan fisik dari dirinya dan pasangannya, tapi apa iya perasaan mereka ikut berubah? :) pertanyaan ini yang mengangkat dahu ku tegak memperhatikan lebih dalam. Saat semua sudah di ridhoi oleh Allah, cinta itu ada pada pasangan kita. Pasangan yang sudah Allah siapkan untuk kita. Yang kalau kita mau menyambutnya dengan istiqomah, insya Allah akan ditemukan di waktu yang indah, Subhanallah... :)
Beliau menerangkan dengan semangat, dengan perasaan, dengan hati, dan dengan cinta. Jodoh itu satu paket dengan rejeki dan kematian. Jika banyak orang yang berpendapat ingin mencari jodoh dan rejekinya, kenapa kematian juga tidak dicari? Bagi sebagian orang kematian justru dihindari. Begitu terang Beliau menggugah keyakinanku. Lalu apa yang kita minta saat berdoa kepada Allah untuk kehidupan kita?
Jika hanya mencari, mungkin kita akan harus merasa mendapatkan yang salah dahulu agar tau yang benar, tapi kalau kita menyambutnya, insya Allah memang itu yang benar untuk kita. Rejeki tidak pernah tertukar, begitu pun jodoh kita. Hanya bagaimana kita mau menyambutnya, menyemainya, memperjuangkannya, dan menjaganya. Bolah jadi, semua sudah dekat dengan kita, hanya saja kita yang enggan untuk membuka diri kita dan membaca sekitar kita :)
Saat perjalanan hidup terus berputar, adakalanya perasaan itu tidak selalu bahagia. Sedih duka dan tangis seharusnya memang menjadi bagian normal kehidupan, dan manusia tak pernah luput dari marah dan salah. Lalu apa yang menjadikan cinta itu tetap ada diantara berjuta rasa yang ada? Cinta ada dibaliknya, cinta yang membuat kita merasakan demikian. Cinta tak hanya saat kita merasa bahagia, cinta juga ada dibalik tangis dan duka, cinta juga ada diserangkaian amarah kita. Begitulah memang seharusnya cinta. Hingga nanti berpuluh tahun menjalani suatu hubungan percintaan pun akan tetap ada cinta itu. Meski raga mulai berubah, meski hidup tak selalu di atas, semua masih tetap ada cinta.
Berdolah diberi perlindungan untuk menyambutnya. Usaha kita itu nomer satu, yang menentukan bahagia tidaknya kehidupan kita ya kita sendiri. Doa kedua orang tua, apalah arti usaha kalo orang tua tidak meridhoi, Ridho Allah ada di ridho orang tua kita. Dan memohon hanya pada Allah, insya Allah akan dimudahkan :)
Ini lho yang membuat bulu kudukku sempat berdiri, " Sambutlah jodohmu dan tumbuhkanlah cinta diantara rasa yang ada di dunia ini, dengan begitu kita akan dapat merasakan cinta sejati itu".
Tak hanya jodoh yang disambut, rejeki, kematian pun harus turut disambut dengan harapan yang positif. Semua akan indah pada waktunya. (^▽^)
Terima kasih Bapak, semoga kami bertemu jodoh kami yang sudah disiapkan :)

1 komentar:

  1. Yap.. cinta itu bukan sekedar keinginan untuk memiliki. Cinta itu lebih kepada bagaimana memberi yang terbaik kepada orang yang kita sayangi.

    Perubahan fisik akan selalu terjadi dalam diri manusia setiap hari. Kodratnya manusia untuk bertambah tua dan fisiknya pun memburuk.

    Tapi, apakah cintanya juga ikut menjadi buruk dan jelek, tidak juga.

    Maybe pertanyaan itu akan hadir ketika sudah menjalani puluhan tahun pernikahan. Ketika manusia menua dan penampilan fisik ikut memburuk. Masihkah ada cinta itu?

    Dan, mungkin saya dengan bangga akan bilang "Masih". Selama 19 tahun masa pernikahan, saya pikir, ternyata saya bisa mencintai dan menyayangi wanita yang sama meski secara fisik dia sudah berbeda (dan bikin dia ribut beut dah).

    Tidak terbayangkan bahwa suatu waktu saya harus merelakannya untuk pergi, walau saya menyadari pada akhirnya itu adalah salah satu kodrat manusia juga. Kematian.

    Kedewasaan dan kebijakan ala pak Satpam itu akan hadir, jika kita mau belajar. Kalau tidak yah, tidak juga. Menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.