Lebaran ... Berlebaran ...

Ini sudah H+17 lebaran Idul Fitri 1433H. Subhanallah masih dipertemukan Allah SWT dengan hari yang luar biasa ini, keindahan, keikhlasan, kesucian, kedamaian, dan kehormatan seperti menyelimuti nuansa lebaran. Hari yang fitri, kembali ke fitrah, kembali suci, ibarat kain putih yang bersih, begitulah dideskripsikannya hati manusia. Saling memaafkan dan mengikhlaskan.:)

Suasana lebaran masih terasa kental, masih saling bermaafan dan silahturahmi. Meski kegiatan layaknya hari-hari biasanya sudah mulai aktif kembali. Kehidupan memang harus terus berjalan. Menginginkan perubahan yang lebih baik tentunya.

Seperti pantasnya seorang laki-laki dewasa yang bertanggung jawab menghidupi apa yang dipunyai, keluarga, istri, anak, cucu, dan anak pinak keturunannya. Seperti pantasnya seorang ibu, yang merawat dan menghiasi indahnya kehidupan, keluarga, suami, anak, cucu, dan anak pinak keturunannya. Dan aku! Seperi pantasnya seorang anak, anak perempuan, yang meneruskan apa yang dimaui orang tuanya. Pantasnya seorang anak yang masih diperbolehkan dengan bebasnya bermimpi, bercita-cita, punya angan, harapan, dan impian. Aku, pantasnya seorang mahasiswa, menuntut ilmu adalah kewajiban utama, membahagiakan orang tua itu ibadah, dan berprestasi mungkin bisa jadi bonus yg dihasilkan.

Lebaran identik dengan mudik, dengan salam tempelnya, dengan makanan khas lontong opornya dan bersilahturahmi.

Mudik. Bagi sebagian besar orang-orang di negeri kita tercinta ini, mungkin mudik menjadi hal yang fenomenal karena sangat menyemarakkan hari-hari lebaran. Bagi orang perantauan seperti keluarga ayah saya, mudik memang punya arti tersendiri. Lebih tepatnya akan menjadi kewajiban karena keharusan untuk bersilahturahmi ke kedua orang tua. Mudik juga mendekatkan kita pada apa yang sudah kita tinggalkan dihari-hari biasanya di daerah rantauan. Jauh dari sanak saudara persusuan dan mengalihkan kehidupan dari tanah kelahiran membuat hati sarat rindu. Seperti itukah gambaran perasaan orang-orang yang merantau? Mungkin (*^▽^*)

Salam tempel dan berbagai sebutan lain seperti angpao, thr, pecingan, sangu, atau apalah mereka sebut sesuai adat di peradaban masing-masing daerah. Maknanya sama, uang yang didapat pada acara silahturahmi, biasanya dari orang tua pada anak-anaknya, anak-anak saudaranya, atau anak-anak tetangganya. Bisa juga orang-orang yang merasa sudah mampu dan membaginya pada sanak saudara yang bersilahturahmi. Sesuai pertambahan usia, salam tempel pun besarnya akan semakin berkurang, hubungan tak searah, hehe... Dan untuk kesekian kalinya, aku masih mendapatkannya, alhamdulillah, hehe..

Yang gak kalah top saat lebaran tiba adalah lontong opor. Bisa dijamin dia jadi buronan tingkat satu untuk dipamerkan di atas meja makan setiap keluarga. Ada lontong yang bentuknya tabung, dibungkus pake daun pisang hijau, begitu sepengetahuan saya mengenai lontong. Ada juga yang dinamakan ketupat, masih serumpun rasanya, hanya wujudnya saja yang berbeda. Ketupat berbentuk persegi dibungkus dengan daun kelapa muda. Warnanya hijau jika masih mentah dan berubah kuning kecoklatan saat sudah masak. Opor ayam adalah pasangan paling setia sepanjang masa mengikuti keberadaan si lontong dan ketupat ini.Dengan kuah yang berlimpah santan berwarnakekuningan,bener-bener bikin suasana mulut tentram dan damai (ˆڡˆ)

Silahturahmi itulah sebenernya tujuan yang paling penting dalam moment lebaran. Demi mencapai fitrah suci, silahturahmi dan saling maaf-maafan itu bisa melunturkan semua dendam dan melunakan kembali para hati yang membatu. Bisa jadi mengembalikan tali silahturahmi yang mulai merapuh. Menguatkan persaudaraan dan mendekatkan yang belum dekat.

Istimewanya moment lebaran itu selalu mampu meneteskan airmata dan mengembangkan tawa.
Subhanallah... Semoga kita masih bisa diberikan kesempatan untuk bertemu lagi, menikmati aroma kesucian yang bertebaran.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.