Malam Temaram

Kepakan sayap burung gereja mulai mengarah ke sarangnya. Matahari menutupkan diri ke ufuk timur. Ada segerombolan bebek peliharaan yang berbaris rapi memburu istananya. Rombongan anak laki-laki berseragam kaos tak berlengan, berlenggang jalan, berlarian kecil, bergurauan, dengan peluh keringat basah di sekujur lekuk tubuhnya. Tak bedanya dengan para ibu yang mulai meneriaki anak-anak gadisnya untuk segera pulang dari bermain tali.

Apalah istimewanya saat malam menjelang tanpa cerita kopi panas untuk berteduh, melepas dahaga. Bapak-bapak pulang dari kubangan dunia kerjanya. Membawa peluh keringat dan jidat berkerat. Yang diberikan ibu hanyalah secangkir kopi panas dan senyuman yang terasa memaniskan pahitnya kopi. Istimewanya mereka menyambut malam, menyambut waktu panjang untuk bermimpi.

Sebagian penghuni dunia menikmati malam dengan santai dan terlelap pulas. Beberapa menghabiskan malam dengan sorak gembira pada langit bintang yang gemerlap. Namun kehidupan lain nampak lebih hidup saat malam menyapa. Tak mudahnya melewati malam dengan santai dan bersorak gembira. Mereka menyambut malam dengan peluh keringat, mengharapkan kehidupan mendatang akan lebih terang.

Malam yang dilakukan istimewa, akan diberikan keistimewaannya oleh Sang Pencipta. Malam yang berlipat kebaikan. Yang penuh dengan lantunan pujian suci pada Sang pencipta. Malam menjadi misteri. Malam menjadi pertanda akan mulainya kehidupan esok hari. Tak hanya hembusan yang diharapkan kebanyakan orang, namun limpahan hingga yang berlapis yang selalu didamba. Ceritanya hidup tetap akan berkisah meski malam menyapa. Menerka hidup selanjutnya. Menemani sajak-sajak pencari rejeki.

Malam yang temaram tak selamanya menjadi kelam.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.