Sebelasjanuariku (´⌣`ʃƪ)

Harapan akan tetap menjadi harapan jika hanya ada setetes air mata. Harapan butuh lebih banyak air mata untuk menjadi kenyataan. Seperti kebanyakan orang yang punya banyak harapan, akupun demikian. Waktu terus berlalu, menyimpankan banyak kenangan. Tentang perjuangan, melewati ratusan tetes air mata. Tentang bahagia, yang memang pantas untuk dibingkai dengan senyuman. Dan bukan hanya perjuangan, tapi pengorbanan. Berkorban untuk menerima luka meski ratusan tetes air mata menggenang.

Harusnya aku bersyukur, namun aku tak begitu pandai bersyukur. Harusnya aku mampu bersabar, namun kesabaranku tak cukup sempurna. Aku jauh dari baik, tapi mencoba mengambil hal baik untuk memberikan yang terbaik. Tak ada yang dibanggakan terhadap diri sendiri selain dapat melukiskan senyum pada orang yang terkasih.

Ibu, bukan hanya bentuk maaf dan terimakasih, namun segala nyawa yang tersisa semoga aku dapat membantu keletihanmu. Ayah, bukan hanya kebanggaan yang akan aku berikan, namun peluh keringatku semoga mampu mengurangi peluh keringatmu. Terimakasih untuk lukisan berjuta warna dari kalian. Yang mendewasakan aku dengan sederhana, dengan keanggunan yang tepat layaknya seorang wanita. Alhamdulillah.. Kakak dan adik, anugerah luar biasa yang pernah Tuhan berikan untukku.

Apa yang sudah hadir, selalu terjaga kehadirannya dalam hidup, semoga tak kulukai dan melukai. Semua yang sudah ada, semoga tetap adanya. Tak ada yang abadi, yang ada hanya membuatnya terasa lebih lama. Semua melekat, menyatu, dan mengisi hingga tak ada kosong yang terasa.


Terimakasih dan maaf untuk semua hal yang sudah masuk dalam rangkaian cerita hidupku. Akan banyak lagi yang harus dilewati, semoga tak terlewatkan sia-sia. Duapuluhtigaku, alhamdulillah :).

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.