Kehilangan Sahabat - Sebuah Cerpen


"Sudah biar aku saja", ucapku saat Naya merebut lembut sapu di tanganku.

Naya adalah teman baikku sedari duduk di bangku sekolah dasar. Hingga saat ini, saat satu minggu sebelum dia dipinang pria pujaannya.

"Sudah, kau duduk manis saja, biar aku yang selesaikan semuanya", pintaku padanya saat kami sedang membereskan kamarnya. Kamar yang akan disulap menjadi kamar pengantin.
"Kenapa aku merasa aneh dengan semua ini?", tanyanya padaku sambil duduk ke arah cermin riasnya.
"Apa yang aneh?" tanyaku kembali, sambil mengambil bangku pendek untuk duduk di sampingnya.

Sudah belasan tahun kami berteman, dan belum pernah sehari pun kami terpisah jauh tanpa pertemuan. Rumah kami berdekatan, hanya selisih tiga deret rumah. Segala hal yang kami punya dan kami alami selalu saling kami bagikan. Umur Naya lima bulan lebih di atasku. Aku sudah menganggapnya seperti kakakku. Kakak perempuan yang selalu mengalah untuk apapun kepadaku. Aku menyayanginya, seperti saudara kandungku.

"Minggu depan aku sudah menjadi istri orang Lun", katanya kemudian.
"Selamat ya, akhirnya hari yang kau tungu akan tiba juga, semoga ini yang terbaik dan kau selalu bahagia", kataku lirih mengucap selamat.
"Bagaimana dengan kita nanti?" tanyanya
"Aku akan tetap selalu ada untukmu, untuk semua yang masih kamu mau bagi padaku", mendadak suaraku seperti tercekat. Tak sadar aku sudah meneteskan air mata.

Hening. Dan kami hanya saling memeluk.

Suara dering handphone milikku membuyarkan suasana syahdu kami. Aku mengambilnya dan satu pesan terbuka di layar handphone ku.

"Ibuku, dia memintaku untuk segera pulang", kataku menjawab tatapan penasaran Naya.
"Salam untuk ibumu, lekas sehat ya, kau temani dia dengan bahagia", pesannya untukku.

Setelah pertemuan itu sampai tiga hari berlalu, kami tak berkabar. Aku memang sengaja tidak menggangunya lebih dulu agar dia tidak terlalu kehilangan tentang kita nantinya. Berat rasanya, seperti rasa kehilangan yang dalam, dan aku pun mulai kesepian.

Hari ini adalah hari pengajian menjelang pernikahannya. Aku tentu akan datang, tanpa dia ingatkan. Sudah aku lihat dari pagi ke arah rumahnya, tampak masih sepi tidak ada persiapan. Mungkin siang nanti, batinku. Dan sore itu tepat satu jam sebelum acara dimulai, aku bergegas menuju ke rumahnya. Berlari kecil sambil berdendang. Dan aku terkejut saat rumahnya tampak sepi. Apa aku salah hari, batinku. Aku mencoba masuk, pagarnya tidak dikunci. Ku ketuk beberapa kali pintu rumahnya, dan ketukan ke delapan kalinya, pintu itu dibuka.

"Mbak Luna", sapa Bi Eli dengan sorot mata agak terkaget.
"Bi, pengajian Naya hari ini kan?" tanyaku menyelidik.
"Iya mbak, tapi Ibu dan Mbak Naya belum pulang", jelas Bi Eli setengah terbata.
"Maksudnya Bi?" tanyaku lagi penuh kecurigaan.

Aku mulai curiga dengan ini. Tidak ada kabar sama sekali. Aku mencoba menghubungi handphone Naya untuk menanyakannya langsung.

Suara dering handphonenya terdengar jelas sampai ke depan pintu.

"Bi, itu suara hp Naya kan? dia ada dimana?" tanyaku menyelidik.
"Mbak Luna mari silahkan masuk, mau minum apa?" Bi Eli mengalihkan pembicaraan dengan menawarkanku minuman.
"Bi, mana Naya?" tanyaku sekali lagi dengan tegas.

Aku memang sudah berteman akrab lama dengan Naya, tapi aku selalu menjaga sopan santun dengan semua anggota keluarganya termasuk asisten rumah tangganya. Tidak pernah aku sembarangan masuk rumahnya tanpa permisi dan diminta oleh tuan rumah.

Bi Eli meninggalkanku masuk dan kembali dengan segelas minuman setelah hampir lima belas menit lebih. Perasaanku semakin tidak menentu. Apa yang sebenarnya terjadi.

"Bi Eli minta maaf mbak, Bi Eli tidak berhak untuk menceritakan apapun kepada siapapun, itu pesan dari Ibu", Bi Eli menyampaikan dengan linangan air mata duduk di hadapanku.

Aku kemudian pamit pulang tanpa pertanyaan lagi untuk Bi Eli. Aku terus berusaha mencari tahu apa yang terjadi. Aku menghubungi semua saudara Naya yang ku kenal, tapi tidak ada respon satupun. Dan terakhir, mau tidak mau aku menghubungi Wildan, calon suami Naya, yang kukenal baik, dulu.

Hampir satu jam aku berusaha menghubungi calon suami Naya, tidak ada balasan, lewat telpon pun tidak dapat dihubungi. Apa yang terjadi, batinku. Perasaanku semakin tidak menentu. Malam kian larut dan aku belum menemukan jawaban, kemana sahabatku.

Menjelang pagi, saat mataku sudah berhasil memejam sejenak, handphone bergetar. Panggilan dari Wildan. Aku agak tercengang, sejenak lupa akan kejadian Naya. Panggilan kuabaikan. Sampai aku tersadar kalau aku membutuhkan panggilan itu untuk Naya. Aku bergegas menghubungi kembali calon suami Naya. Panggilanku terhubung.

"Pagi Wil", sapaku dengan nada serak bangun tidur.
"Ya Lun, ada apa semalam menghubungiku? maaf aku sudah lelah semalam", jawabnya.
"Naya dimana?" tanyaku tanpa basa basi.
"Nanti kuceritakan kalau semuanya sudah selesai", jelasnya singkat.
"Apa maksudnya? Aku hanya ingin tahu keberadaan Naya", tanyaku kembali dengan nada mulai tak sabar.
"Bukan hanya kamu yang tidak tahu, akupun tidak tahu Naya ada dimana", jelasnya kembali.

Suaranya mulai bergetar, aku rasa dia memang tidak sedang membohongiku. Aku memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan. Ku pejamkan lagi mataku, rasanya masi berat seakli untuk memikirkan lagi keberadaan Naya. Waktu masih menunjukkan pukul tiga dini hari. Dan aku masih ingin istirahat.

"Lun...", suara Ibu memanggilku.
"Iya Bu", aku bergegas turun menghampiri Ibu yang tidur satu kamar denganku, hanya berbeda tempat tidur.
"Ada apa dengan Naya?" tanya Ibu kemudian.
"Naya pergi Bu, aku juga tidak tahu kemana, tidak ada kabar", jelasku pelan pada Ibu.
"Dia jadi mau menikah kan?" tanya Ibu kembali.
"Mungkin Bu, aku juga belum tahu", jelasku singkat.

Kemudian aku pamit menyudahi percakapan dengan Ibu untuk kembali istirahat.

Sampai satu hari sebelum hari pernikahannya, aku masih belum mendapat kabar apapun tentangnya. Dan calon suaminya pun. Aku tidak berharap sesuatu yang buruk terjadi, namun perasaanku mengatakan ada yang buruk telah terjadi dengan sahabatku.

Tepat di hari pernikahannya, tampak sepi dan tak ada seorangpun yang tahu kabar Naya dan keluarganya, bahkan calon suaminya pun masih berusaha mencari tahu. Aku sudah hilang akal akan bagaimana lagi untuk mencari tahu tentang Naya.

Untukmu Naya, aku mendoakanmu agar kau dalam keadaan baik-baik saja.

-Selesai-

_sedang belajar menulis cerpen_



#OneDayOnePost
#KomunitasODOP
#ODOPBatch7

4 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.