Perhatikan Aku!

"Seperti menggelitik saat tahu ternyata aku tak dilirik. Puluhan kali mematut diri di depan cermin. Nyatanya tetap saja, bukan aku yang ditarik."

Puisinya selalu jadi primadona para pembaca majalah dinding di SMA 28. Tempatnya menuntut ilmu yang bergengsi. Kumpulan para anak pejabat tinggi. Tapi apalah dia, hanya seorang anak tukang cuci. Ayahnya tiap pagi tak pernah peduli, dia mau ke sekolah atau tidur lagi.

Teman-temannya tampak tak tertarik. Dia sudah berusaha dandan agar cantik. Tetap tak ada yang melirik. Payahnya lagi, tak satupun yang jadi mau untuk berteman baik. Seperti kambing dalam kandang itik. Apalah dia, bukan jadi idola yang punya bakat menarik.

Tapi dia terus berkarya, hingga tak satupun orang tahu. Karyanya terus jadi idola, meski dia tak harus tampak di muka. Selalu dia berikan dengan hati, agar orang-orang tahu, yang menarik tak hanya dilihat dari fisik.

Hampir dua puluh kali karyanya selalu jadi perbincangan. Sudah banyak diambil dan dibuat jadi saduran. Tapi tetap dia tak ingin orang tahu. Ada rasa takut yang lebih besar, yang membuatnya selalu gusar. Jika nanti semua tahu, apa yang terjadi denganku, pikirnya selalu begitu. Meski sebenarnya dia penasaran untuk menjadi satu bintang yang diagungkan. Bukan karena fisiknya, materinya, atau tingkah lakunya, tapi hanya sekedar untuk karyanya saja.

Pelan dia membuat keputusan. Aku akan membuka semuanya untuk orang tahu. Tapi ternyata tak semudah itu.

Pagi itu, dia benar ingin semua orang menjadi tahu. Siapakah dibalik karya yang selalu menjadi agung itu. Dia juga mau menjadi yang diagungkan seperti karyanya. Dia tuliskan nama pendeknya dihasil karyanya hari itu. Dia menanti akan ada berapa orang yang kemudian menyalaminya. Merangkulnya dan memberinya senyuman tulus. Dia berharap akan banyak yang kemudian mengajaknya berteman akrab.

Ternyata harapan itu hanya impian. Benar saja apa yang ditakutkannya. Semua bentuk reaksi yang diharapkannya tak ada. Yang ada hanya cibiran, hingga makian. Dia pun tak kuasa untuk menjauh mengeluarkan segala peluh yang menyesakkan.

"Perhatikan Aku! Aku juga manusia, seperti kalian. Sama hak ku dan hak kalian. Ingin menuntut ilmu dan berkarya secara terbuka. Membaur dan berbagi sayang dengan sesama. Tapi ternyata aku tak diharapkan. Mungkin tempatku salah. Jadi lebih baik aku mengalah. Besok aku akan pergi. Agar tak ada lagi sosok yang membuat kalian merasa rugi."

Begitu puisi terakhirnya. Dia tempelkan disegala penjuru tempat. Dia tuliskan besar-besar agar mudah terlihat. Kemudian dia benar-benar pergi selamanya. Di belakang kantin tempat favoritnya menghaliskan puluhan karya. Dia duduk lemas tak berdaya. Setelah menenggak sebotol racun serangga.


#Hutangtulisan011019
#OneDayOnePost
#KomunitasODOP
#ODOPBatch7


10 komentar:

  1. apakah ini kisah nyata kak atiqoh? aku suka cara kakak menggambarkan tulisannya, mengalir.. tetap berkarya kak :)

    BalasHapus
  2. Ya, kok dia menyerah ya padahal kan masih punya banyak waktu untuk berjuang 😭

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihiii... itulah, kadang lingkungan yang terllau negatif menyudutkan diri yang sudah terlalu rendah diri hehehe

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.