Kenali Gejala Cacingan, Tuntaskan dengan Konvermex

 Cacingan menjadi salah satu penyakit yang disebabkan oleh hewan cacing atau parasit yang tinggal di dalam usus manusia. Apakah berbahaya? Tentu saja! Kenapa? Karena mereka akan bertahan hidup di dalam tubuh manusia dengan mengambil sari-sari makanan yang masuk ke usus. Oleh karena itu, yuk kita kenali gejala cacingan pada anak dan orang dewasa.


Jika yang terdengar, banyak terjadi kasus cacingan pada anak-anak, ternyata kalau orang dewasa juga bisa kena cacingan, lho. Bahkan, dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI, mengenai Penanggulangan Cacingan, menyebutkan jika cacingan merupakan penyakit menular. Dimana hingga saat ini, masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Sehingga dapat menyebabkan menurunnya kondisi kesehatan, gizi, kecerdasan dan juga produktivitas.


Jenis Cacing yang Menginfeksi Manusia

Cacingan merupakan sebuah penyakit yang dapat diderita oleh manusia, yang diakibatkan adanya infeksi cacing di dalam tubuhnya. Ada banyak jenis cacing yang dapat menginfeksi tubuh manusia. Lima diantaranya, cacing kremi, cacing gelang, cacing pita, cacing cambuk, dan cacing tambang. 


1. Cacing Kremi (Enterobius Vermicularis)

Cacing kremi dapat masuk ke tubuh melalui makanan, pakaian, bantal, sprei, atau bahkan dari inhalasi debu yang mengandung telur. Kemudian akan bersarang di usus dan akan dihancurkan oleh enzim usus. Namun, telur yang lolos dapat berkembang menjadi larva dewasa.


Siklus hidup dan morfologi cacing betina berukuran panjang 8 - 13 mm, dengan lebar 0,3 - 0,5 mm dan mempunyai ekor yang meruncing. Bentuk jantan, lebih kecil dan berukuran panjang 2 - 5 mm dengan lebar 0,1 - 0,2 mm serta mempunyai kaudal yang melengkung.


2. Cacing Gelang (Ascaris Lumbricoides)

Secara umum, cacing gelang berwarna merah dan berbentuk silinder. Cacing jantan berukuran lebih kecil daripada cacing betina. Pada stadium dewasa, cacing ini dapat hidup dan berkembang dalam rongga usus kecil manusia.


Cacing dewasa dapat hidup dalam jangka waktu kurang lebih 10 - 24 bulan. Cacing dewasa dilindungi oleh pembungkus agar tidak dicerna oleh sistem pencernaan manusia. Cacing ini juga memiliki sel-sel otot somatik yang besar dan memanjang, sehingga mampu mempertahankan posisinya di dalam usus kecil manusia.


Nah, otot somatik tersebut dapat dilumpuhkan oleh obat cacing, cacing tersebut akan mudah keluar melalui anus karena gerakan peristaltic di usus.


3. Cacing Pita (Taenia)

Terdapat tiga spesies cacing pita, yaitu Taenia solium, Taenia saginata, dan Taenia asiatica. Ketiga spesies tersebut dapat menyebabkan penyakit pada manusia, yang dikenal dengan istilah taeniasis dan sistiserkosis.


4. Cacing Tambang (Ancylostoma Duodenale dan Nectar Americanus)

Infeksi cacing tambang pada manusia, disebabkan oleh Ancylostoma duodenale dan Necator americanus. Cacing ini memiliki morfologi melengkung di ujung anterior dan membentuk kail. Memiliki rongga mulut yang besar dengan lubang miring yang dipersenjatai dengan gigi atau lempeng pemotong.


Cacing betina dewasa dapat menghasilkan telur sekitar 28.000 per hari, yang keluar dari tubuh melalui feses. Setelah telur bersentuhan dengan tanah hangat dan lembab, mereka akan berembrio.


5. Cacing Cambuk ( Trichuris Trichiura)

Dinamakan cacing cambuk, dikarenakan bentuk tubuhnya yang keseluruhan menyerupai cambuk. Cacing dewasa dapat bertahan hidup di dalam usus besar manusia, terutama di daerah sekum dan kolon. Cacing ini banyak ditemukan di daerah panas dan lembab, seperti di Indonesia.


Panjang cacing dewasa lebih kurang 4 cm, sedangkan cacing betina panjangnya dapat mencapai 5 cm. Tubuh bagian anteriornya halus berbentuk seperti cambuk. Sedangkan bagian ekornya lurus berujung tumpul.


Penyebab Cacingan

Menurut data dari Kementrian Kesehatan RI tahun 2017, prevalensi cacingan di Indonesia masih sangat tinggi. Apalagi pada golongan keluarga yang kurang mampu, dengan sanitasi yang buruk.


Lantas, apa yang menyebabkan kita bisa terjangkit infeksi cacingan? Beberapa hal sederhana berikut, ternyata bisa jadi jalan penularan infeksi cacingan, lho.


Penularan dapat terjadi ketika kita menyentuh objek yang memiliki telur cacing, dan kita tidak mencuci tangan setelahnya. Objek ini dapat beragam, seperti tanah, makanan, atau cairan yang sudah mengandung telur cacing.


Dapat juga disebabkan oleh makanan yang mentah atau kurang matang yang ternyata mengandung cacing. Kebiasaan berjalan di tanah tanpa alas kaki juga memperbesar faktor resiko penularan.


Apalagi pada anak, penularan lebih cepat terjadi. Aktivitas anak tentu saja tidak dapat dibatasi dimana saja. Hal ini yang kemudian menjadikan anak-anak lebih rentan terinfeksi. Telur cacing yang menempel di tangan atau kaki tanpa sengaja, kemudian tertelan dan masuk ke dalam tubuh, menjadi salah satu cara penularan infeksi cacing yang paling sering terjadi pada si kecil.


Kemudian, apa saja gejala cacingan yang dapat dirasakan atau terlihat pada anak-anak dan orang dewasa? Lalu, bagaimana cara mengatasinya?


kenali-gejala-cacingan

Gejala Cacingan pada Anak dan Orang Dewasa

Secara umum, gejala cacingan pada orang dewasa ternyata hampir sama dengan yang terjadi pada anak-anak. Cacingan dapat menimbulkan berbagai macam gejala. Mulai dari rasa gatal di anus atau vagina, dan gangguan organ pencernaan, seperti diare, mual dan muntah. Bahkan, hingga terjadinya penurunan berat badan.


Cacingan juga dapat menyebabkan kehilangan karbohidrat dan protein dalam tubuh serta kehilangan darah. Sehingga dapat menurunkan kualitas kesehatan manusia. (PMKRI - No 15 th 2017 - Tentang Penanggulangan Cacingan)


Gejala Cacingan pada Orang Dewasa

Cacingan yang terjadi pada orang dewasa biasanya jarang disadari. Hal ini dikarenakan, kemunculan kondisinya hanya ditandai dengan gejala ringan. Seperti, sakit perut, diare, mual, muntah, kelelahan atau penurunan berat badan.


Padahal, gejala cacingan tersebut tidak boleh dianggap remeh, meski dapat diobati dengan obat cacing orang dewasa. Tentu saja, karena infeksi dari parasit ini bisa menimbulkan komplikasi yang dapat berakibat fatal. Meski memang kejadiannya masih jarang. Namun, kita harus tetap waspada akan hal ini, karena lebih baik mencegah daripada mengobati.


Gejala Cacingan pada Anak

Sebagai orang tua, penting lho untuk tahu tanda-tanda cacingan pada si kecil. Apalagi jika si kecil masih di usia 1 - 10 tahun. Meski penyakit ini dapat diatasi dengan pemberian obat cacing untuk anak, namun akan ada kemungkinan si kecil dapat terinfeksi berulang, jika tidak dilakukan tindakan pencegahan.


Sebagian besar, kasus cacingan pada anak tidak menunjukan tanda-tanda yang bahaya. Hanya beberapa gejala khas yang memudahkan kita mengenali. Seperti, gatal di sekitar anus, apalagi di malam hari. Dapat terlihat dari tidur si kecil yang tidak nyaman karena sering menggaruk di bagian anus. Jika muncul tanda tersebut, sudah pasti akan menyebabkan iritasi kulit (kemerahan) di sekitar anus.


Kemudian, si kecil akan lebih sering mengeluh sakit perut. Lebih menonjol lagi, ditambah dengan menurunnya nafsu makan si kecil yang akhirnya menyebabkan penurunan berat badan.


Tidak hanya gejala di atas saja, bukti nyata jika si kecil cacingan adalah ditemukannya beberapa jenis cacing pada tinja, atau menempel pada anus anak. Gambaran salah satu jenis cacing yang dapat terlihat, mirip dengan benang putih kecil atau seperti staples berukuran kecil.


Gejala Cacingan Berdasarkan Jenis Cacing

Setelah membaca dari berbagai sumber lebih lanjut, ternyata gejala yang muncul dari penderita juga dapat disesuaikan dengan jenis cacingnya. Seperti:


1. Cacing Kremi (Enterobius Vermicularis)

Cacing kremi menjadi yang paling umum menginfeksi manusia terutama pada anak-anak. Tanda-tanda infeksi parasit cacing kremi antara lain, bagian anus yang terasa gatal. Hal ini akan menyebabkan gangguan saat tidur, anak jadi mudah rewel, hingga mengalami kelelahan. Bahkan dapat sampai mengurangi nafsu makan.


2. Cacing Gelang (Ascaris Lumbricoides)

Hal yang paling menakutkan dari cacing gelang adalah dapat hidup menjadi parasit di usus manusia. Infeksi cacing gelang pada anak-anak dapat mengakibatkan pertumbuhan terhambat, dikarenakan kekurangan gizi.


Pada orang dewasa, infeksi cacing ini memang tidak menimbulkan gejala akut. Namun, tetap saja, parasit ini dapat menyebabkan sakit perut dan obstruksi usus hingga berpotensi terjadinya perforasi pada infeksi dengan intensitas yangg sangat tinggi.


3. Cacing Pita (Taenia)

Ketiga spesies cacing pita dapat menyebabkan penyakit pada manusia, yang dikenal dengan istilah taeniasis dan sistiserkosis. Gejala klinis yang dirasakan adalah gatal-gatal pada anus, mual, pusing, sakit kepala, diare, lemar, sembelit, pegal pada otot, hingga penurunan berat badan. 


Sistiserkosis menimbulkan gejala dan efek yang beragam sesuai dengan lokasi parasit dalam tubuh. Paling sering ditemukan adalah di otak manusia, mata, otot dan lapisan bawah kulit.


4. Cacing Tambang (Ancylostoma Duodenale dan Nectar Americanus)

Infeksi cacing tambang merupakan penyebab umum anemia akibat defisiensi zat besi. Cacing jenis ini dapat mengakibatkan hilangnya sekitar 0,05 ml darah setiap hari. Jika seseorang mengalami infeksi cacing tambang yang berat, mereka akan mengalami anemia berat.


Jika larva cacing menembus kulit dalam jumlah yang banyak, dapat menimbulkan rasa gatal dan kemungkinan akan terjadi infeksi sekunder. Gejala klinik yang dapat timbul karena infeksi cacing tambang dewasa dapat berupa nekrosis jaringan usus, gangguan gizi dan gangguan darah.


Jika larva sampai tertelan, makan akan menimbulkan gatal di tenggorokan, suara serak, mual dan muntah. Pada fase selanjutnya, larva dapat berkembang biak pada saluran cerna, yang dapat menimbulkan rasa nyeri pada perut.


Kerja cacing tambang dalam tubuh manusia, dengan menghisap darah. Sehingga dapat menyebabkan pendarahan kronik. Kemudian dapat menimbulkan hipoproteinemia, yang bermanifestasi pada wajah, ekstremitas atau perut.


5. Cacing Cambuk ( Trichuris Trichiura)

Kebanyakan infeksi dari cacing cambuk tidak menunjukkan gejala. Akan tetapi, gejala berat dapat menyebabkan masalah pencernaan (sakit perut, diare, anoreksia), sakit kepala, kelelahan, anemia, dan eosinofilia.


Pengendalian penyakit cacingan ini, sudah pasti harus dilakukan pemutusan rantai penularannya. Pemutusan siklus hidup cacing-cacing tersebut sebagai agen penyebab penyakit dapat dilakukan dengan melakukan pengobatan terhadap penderita yang terinfeksi.


Tentunya, tidak semua obat dapat efektif mengatasi semua cacing dari jenis tersebut. Oleh karena itu, kita juga wajib tahu obat cacing yang dapat bekerja secara optimal untuk semua jenis parasit cacing.


Konvermex, Mengobati Berbagai Jenis Cacingan

Pada umumnya, gejala cacingan baik pada orang dewasa atau anak-anak, dapat diatasi dengan mengonsumsi obat cacing. Namun, penting juga untuk menjaga pola hidup bersih dan sehat untuk mencegahnya.


Salah satu jenis obat cacing yang sudah menjadi sahabat setia keluarga Indonesia adalah Konvermex obat cacing keluarga. Obat ini diproduksi oleh Konimex yang mengandung Pyrantel Pamoate. Kandungan tersebut, digunakan untuk membasmi berbagai jenis cacing yang berada di dalam tubuh.


Konvermex menghancurkan cacing di tubuh, sehingga akan terbebas dari semua gejalanya. Obat ini mampu mengatasi cacingan yang disebabkan mulai dari cacing parasit, cacing gelang, hingga cacing tambang. Jadi, saya semakin yakin untuk memilih ini menjadi obat cacing keluarga.


Jenis Konvermex untuk Dikonsumsi

Selain untuk dewasa, Konvermex juga aman untuk dikonsumsi oleh anak-anak. Jenis obat cacing ini berupa suspensi dan tablet. Cocok digunakan untuk mengobati cacingan yang disebabkan oleh parasit pada saluran pencernaan. 


konvermex-obat-cacing-keluarga

Konvermex Suspensi

Kemasan untuk jenis suspensi adalah dengan botol. Dimana terdapat dua kandungan dosis dalam 1 botol, untuk setiap 10 ml, ada yang mengandung 125 mg dan 250 mg Pyrantel Pamoate.


Hadir dengan dua pilihan rasa, packaging warna oranye adalah rasa jeruk yang banyak disukai oleh anak-anak. Sedangkan wadah warna biru, dengan rasa vanilla. Obat ini dapat dikonsumsi anak-anak mulai dari usia 2 tahun hingga 12 tahun ke atas. Ketentuan dosis konsumsi sudah tertera jelas di kemasan obat.


Aturan pakai dosis untuk sekali minum :

Suspensi 125 mg

usia 2 - 6 tahun : 1/2 - 1 takaran (5 - 10 ml)

usia 6 - 12 tahun : 1 - 1 1/2 takaran (10 - 15 ml)

usia lebih dari 12 tahun : 1 1/2 - 2 takaran (15 - 20 ml)


Suspensi 250 mg

usia 2 - 6 tahun : 1/4 - 1/2 takaran (2,5 - 5 ml)

usia 6 - 12 tahun : 1/2 - 3/4 takaran (5 - 7,5 ml)

usia lebih dari 12 tahun : 3/4 - 1 gelas takar (7,5 - 10 ml)


Untuk orang dewasa, dianjurkan minum sekitar 15 - 20 ml atau 1,5 - 2 gelas takar untuk hasil yang maksimal.


Konvermex Tablet

Pilihan bentuk lainnya adalah tablet. Sama dengan jenis suspensinya, kemasan tablet juga ada dua pilihan dosis, 125 mg dan 250 mg. Dengan packaging warna biru, yang di dalamnya dalam satu kemasan berisi empat tablet untuk dosis 125 mg. Sedangkan untuk ukuran 250 mg, terdapat 2 kaplet dalam satu kemasan.


Aturan pakai dosis untuk sekali minum :

Tablet 125 mg

usia 2 - 6 tahun : 1 - 2 tablet

usia 6 - 12 tahun : 2 - 3 tablet

usia lebih dari 12 tahun : 3 - 4 tablet


Tablet 250 mg

usia 2 - 6 tahun : 1 - 2 tablet

usia 6 - 12 tahun : 1 - 1 1/2 tablet

usia lebih dari 12 tahun : 1 1/2 - 2 tablet


Meski terlihat mudah diobati, namun jangan menganggap remeh cacingan, ya. Kenapa? Karena sudah beberapa terjadi kasus pada orang tertentu seperti lansia dan penderita masalah kekebalan tubuh, cacingan ini akan menjadi penyakit berbahaya. Seperti dapat mengakibatkan penyumbatan usus dan anemia.


Oleh karena itu, pencegahan sudah pasti lebih baik dilakukan. Saya pun selalu berusaha menjaga kebersihan, mulai dari kebersihan diri, makanan sampai lingkungan tempat tinggal. Apalagi jika memiliki anak-anak, sudah pasti harus lebih ekstra.


Serta, tentu saja, yuk, rutin minum obat cacing secara rutin setiap 6 bulan sekali secara bersamaan dengan seluruh anggota keluarga. Hal tersebut sudah menjadi langkah terbaik dalam memutus rantai infeksi gejala cacingan pada anak dan orang dewasa. Ayo saling jaga kesehatan dan kebersihan agar terhindar dari cacingan.


Referensi:

- panduanbunda.com

- repositoryunimus.ac.id


10 komentar:

  1. Cacingan bukan hanya menyasar anak anak sebab katanya mereka kan masih suka banyak melalukan aktivitas fisik semisal main di tanah. Eh ternyata orang dewasa juga bisa terkena cacingan.

    BalasHapus
  2. Ngeri ya, ternyata jenisnya banyak banget cacing tu.. Semua jenis ini bisa masuk ke tubuh ya?

    BalasHapus
  3. ALhamdulillah ada konvermex ya mbak sehingga anak pun terbebas dari cacingan. jadi ingat pas kecil dulu saya suka minum obat cacing juga.

    BalasHapus
  4. Anak-anak saya rutin 6 bulan sekali dikasih obat cacing dari posyandu. Tp kayaknya boleh juga nih sedia kmnvermex dirumah, pandemi skrg kayaknya posyandu vakum

    BalasHapus
  5. Aduh saya tuh geli sama cacingan tapi sampai saat ini belum dikasih sama anak2. Ntar dicoba deh

    BalasHapus
  6. ternyata penurunan berat badan itu bisa jadi salah satu penyebab cacingan juga ya..
    perlu diwaspadai nih ya kalau berat badan tiba-tiba turun padahal kita tidak jalani diet, heheh.

    BalasHapus
  7. Ngga nyangka sihh kalau cacingan juga ternyata bisa kena orang dewasa huhuh..dulu mikirnya cacingan cuma penyakitnya anak kecil hahaha

    BalasHapus
  8. Masalah cacingan bukan hanya persoalan anak kecil tpi orang dewasa juga bisa cacingan, dan ini ngeri banget karena dapat menurunkan nafsu makan dan berat badan

    BalasHapus
  9. kebetulan banget kak saya sedang nyari ini tapi ga semua tempat ada ternyata ya produk ini, pengen nyobain udah lama ga minum obat cacing, buat jaga-jaga

    BalasHapus
  10. aduh, keinget dlu pas kecil pernah sekali cacingan nggak enak bgt, wah referensi obat yang cacing yang lumayan inih

    BalasHapus

Terima kasih sudah membacanya sampai selesai, semoga bermanfaat :) Please jangan tinggalkan link hidup dalam kolom komentar!

Diberdayakan oleh Blogger.