Mengurus Anak Kami

Semenjak saya mengandung Gendhis, nama anak kami tercinta, kami bertekad untuk mengurus anak kami sendiri, tanpa campur tangan baby sitter. Jadilah kami pasangan muda yang pontang-panting.

(doc. PNGIX.com)

Tentu saja apa yang dilakukan sungguh jauh dari sempurna. Terlebih kalau suami sedang keluar kota. Dengan energi polah yang luar biasa, Gendhis selalu membuat ngos-ngosan. Namun semua bisa terbayar karena kami bisa mengetahui perkembangan Gendhis menit demi menit. Kami agak bernafas lega kalau mertua datang atau orangtua datang.

Ada kepuasan tersendiri, saat semua bisa dikerjakan dengan bahagia meski tidak sempurna. Memandikan Gendhis, memakaian baju untuknya, mencuci pakaiannya, membuatkan dan menyuapi makanan untuknya, menemaninya bermain, menjaga kalau dia sedang tidur sambil mengerjakan pekerjaan lain. Kami punya kesadaran bahwa merawat anak adalah tanggungjawab istri dan suami.

Berat memang awalnya, saya harus mengambil keputusan untuk meninggalkan pekerjaan kantoran saya. Tapi percayalah ketika diikhlaskan, semuanya terasa melegakan. Memang tidak selamanya menyenangkan, apalagi mendengar celotehan dari berbagai kalangan. Pernah saja, saya hanya ingin hidup bertiga saja, dengan suami dan anak saya. Tanpa campur tangan siapapun, meski itu dari orang tua kami. Saya berusaha kuat untuk tetap menjadi Istri dan Ibu yang bahagia. Membahagiakan keluarga kecil saya.

Kami menutup pintu untuk masuknya orang lain dalam keluarga kami. Kecuali kedua orang tua kami, yang jika sesekali kami meminta bantuan. Bagi kami, orang lain apalagi bukan keluarga dari kami adalah gangguan. Kami tidak mau mengambil resiko tinggi untuk itu. Apa yang akan kami lakukan untuk Gendhis, biar menjadi tanggung jawab kami. Kami belajar bekerja sama dengan baik, setelah ada Gendhis.

Beberapa tips dari apa yang kami lakukan, karena memliki anak dan mengurusnya sendiri dari nol tidaklah mudah. Meski banyak panduan yang bisa kita baca dan lihat, tetap saja pada kenyataannya, praktek jauh lebih sulit.

  1. Buat komitmen dengan pasangan tentang segala akibat yang akan terjadi
  2. Tidak saling menyalahkan, namun saling melengkapi
  3. Dahulukan hal-hal yang menjadi penting atau menyangkut nyawa
  4. Mintalah bantuan jika memang membutuhkan
  5. Lakukan dengan senang hati dan berbahagialah dengan apa yang ada
  6. Tidak ada orang tua yang sempurna, jadilah orang tua yang bahagia.
Kami merencanakan ini semua jauh sebelum menikah, saat kami masih saling mengenal berdua. Komitmen kami sangat kuat untuk tetap bisa hidup mandiri setelah kami menikah. Itulah yang menjadi dasar kami untuk dapat bekerja sama mengurus anak kami secara mandiri. Memang tidak mudah, tapi sangat memuaskan 💗.



#OneDayOnePost
#KomunitasODOP
#ODOPBatch7

28 komentar:

  1. Masya Allah... Keluarga kecil yang bahagia. Barokalloh ya ka, salam buat Ghendis 😊

    BalasHapus
  2. Semoga tetap Istiqamah dan kompak ya kak...

    Salam kenal Sule dari Sapporo

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih, amiinn :)

      salam kenal dari Kairo, sukses selalu!

      Hapus
  3. Semoga selalu dalam bingkai sakinah mawaddah wa rahmah ya Mbak. Tipsnya bakal saya catat untuk nanti diaplikasikan hehe

    Aoikinawa.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. amin... terima kasih sudah membaca tulisan saya, semoga bermanfaat :)

      Hapus
  4. Jadilah orang tua yang bahagia, bukan menjadi orang tua sempurna. Mantap Kakak. Memang betul, mengikuti dan menyaksikan sendiri tumbang Ananda dari hari kehari adalah kebahagiaan yang hakiki ya, Mbak... 🥰

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes, tidak akan pernah rugi karena waktu tidak pernah terulang lagi, jangan sampai menyesla dikemudian hari :)

      Hapus
  5. Guru yang paling baik untuk anak adalah ibunya. Sentuhan seorang ibu dapat memberikan kebutuhan anak walau sesulit apapun.

    BalasHapus
  6. Maa Sya Allah..luar biasa tulisannya mba..kalo sudah menikah dan punya anak mungkin bisa saya terapkan

    BalasHapus
    Balasan
    1. amin, alhamdulilah, semoga bermanfaat yaaa ) terima kasih sudah mampir membaca

      Tetap semangat menulis :)

      Hapus
  7. Wah bisa belajar banyak nich dari tulisan ini.... Makasih mbak...

    BalasHapus
  8. Wah..terima kasih tipsnya kak, insha Allah bisa diterapkan kelak hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama-sama, terima kasih sudah mampir membaca, semoga bermanfaat :)

      Hapus
  9. Jangan lupa jaga kewarasan hehehe. Salam dari group Sapporo, Mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaa betul! ibu waras, anak dan sesisi rumah pun waras :)

      Salam kembali dari Kairo, semangat menulis :)

      Hapus
  10. Wah nice post Mbak... Barokallaoh, semoga sakinah mawaddah warohmah ya Mbak....
    Salam dari Sapporo ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih sudah mampir membaca :)

      Semangat menulis dari Kairo :)

      Hapus
  11. Semangat mba semoga selalu diberi kelancaran...

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.