Prinsip Keuangan Setelah Menikah, Tidak Ada Hutang Diantara Kita!

Masih ragu membahas masalah keuangan dengan pasangan? Idealnya, 'omongan' masalah keuangan dengan pasangan, sudah harus dibicarakan sebelum menikah. Kenapa? Supaya ada rasa saling tanggung jawab dan PERCAYA. Nah, ini jadi hal penting untuk menemukan bersama sebuah prinsip keuangan setelah menikah.

Berdasarkan pengalaman saya, 'omongan' mengenai masalah keuangan sudah selalu saya dan pasangan singgung dan rencanakan, sebelum menikah. Paling tidak, secara umum kami sudah membahas mengenai, siapa yang membayar apa, ada kebutuhan apa saja yang perlu dibayar, dan bagaimana pengelolaannya. 

Mengatur Keuangan Keluarga
Prinsip Keuangan Setelah Menikah ( design by catatanatiqoh via Canva)

Ternyata, hal demikian sangat mempengaruhi kami setelah menikah dalam mengatur keuangan. Meski sampai sekarang, kami pun terus belajar untuk mendekati benar dalam mengatur keuangan.

Dan, untuk membicarakan mengenai keuangan ini, rasanya tidak perlu menjadi pakar keuangan untuk dapat belajar mengatur uang. Yuk, belajar bersama mengenai keuangan setelah menikah.

Prinsip Keuangan Setelah Menikah


Prinsip utamanya adalah terbuka dan saling percaya.

Sebagai salah satu topik yang sensitif untuk dibahas dalam hal rumah tangga, masalah keuangan memang harus disikapi dengan bijak. Dalam hidup, sudah pasti kita akan terus berinteraksi dengan uang. Apalagi di semua aspek dalam rumah tangga. Mulai dari kehamilan, kelahiran, biaya tempat tinggal, kesehatan, biaya hidup anak, dan banyak hal lainnya.

Nah, berdasarkan kebutuhan yang beragam itulah, perencanaan keuangan setelah menikah memang penting. Tentu saja agar lebih fokus pada kebutuhan saja. Tapi, sesekali untuk menuruti keinginan tidak masalah, asal ada dananya, hihi..

Jadi prinsip keuangan apa saja yang sudah kalian pegang dalam mengelola keuangan setelah menikah? 3 Prinsip di bawah ini yang saya dan pasangan pelajari dan kemudian terapkan hingga saat ini.

1. Tidak Ada Hutang Diantara Kita

Satu prinsip yang memang saya pegang dalam masalah keuangan adalah, tidak berhutang. Hal ini sudah saya biasakan, dari mulai saya dipercaya orang tua untuk mengelola uang sendiri.

Kenapa? Karena hutang membuat saya merasa kalau jumlah uang yang saya punya adalah semu. Beruntungnya, saya mendapatkan pasangan yang juga anti hutang-hutang club, hehe..

Kami memilih untuk lebih bersabar dalam mendapatkan keinginan. Tidak ada hutang yang coba kami buat, apalagi mengonsumsi sesuatu dengan kredit. Meski rasanya jadi sulit, tapi kami akhirnya sudah terbiasa dengan menikmati apa yang ada.

Karena prinsip yang kami pegang kuat inilah, kami wajib untuk menyediakan dana darurat. Untuk apa? Agar saat terjadi kesulitan keuangan pada kami, kami tidak sampai harus mengandalkan pinjaman atau hutang pada orang lain.

Bagaimana mempersiapkan dana darurat? Ada di postingan ini YUK, SIAPKAN DANA DARURATMU!

2. Pengaturan Cash Flow

Nah, prinsip kedua yang juga sudah kami pelajari dan selalu kami coba terapkan adalah, pengaturan cash flow. Jujur saja, kalau kami belum berhasil 100 persen dalam penerapannya sejauh ini. Terkadang, beberapa yang tidak penting, kami dahulukan demi predikat "reward" untuk diri sendiri, hihi..

Jadi, seberapa pentingnya pengaturan cash flow?

Cash flow atau aliran uang, dapat dilihat dari berapa masukan dan berapa pengeluaran yang harus dipenuhi. Cash flow ini akan berjalan cantik jika diatur dengan mengutamakan kewajiban dahulu yang harus dipenuhi.

Misalnya, untuk ZIS dan PAJAK, kemudian HUTANG dan CICILAN jika ada. Setelahnya, sisihkan untuk tabungan atau investasi dan dana darurat di awal. Sisanya untuk kebutuhan sehari-hari, dan keinginan.

Jika cash flow tidak dibuat berdasarkan kewajibannya, sudah dijamin keuangan akan berprinsip 'gali lubang, tutup lubang'.

3. Mempunyai Budget

Setelah mempunyai cash flow yang jelas dalam keuangan, penting juga untuk menentukan budget. Budget sudah pasti harus disesuaikan dengan pemasukan ya. Supaya apa? Ya, agar tidak besar pasak daripada tiang, begitu kata pepatah, hehe..

Berdasarkan yang saya pelajari, menentukan budget dapat berdasarkan dari nilai persentase, atau nilai asli yang lebih mudah. Ada satu tips yang saya dapatkan mengenai alokasi dana sesuai budget agar mudah dilakukan, yaitu dengan sistem amplop.

Sistem amplop ini memang terlihat kuno, tapiiiii manfaatnya bagi keuangan keluarga, justru jadi lebih tertata. Caranya gampang kok, hanya dengan membagi pemasukan ke pos-pos pengeluaran dengan amplop yang disertai judul alokasinya.

Mengapa budget harus dipisahkan? Tentu saja dikarenakan uang akan lari tanpa terasa. Saat keuangan bercampur jadi satu, sudah pasti akan lebih rentan digunakan untuk keperluan yang bukan tujuannya. Benar atau benar begitu? 😋

Nah, berdasarkan sumber artikel-artikel keuangan yang saya baca, sumber utama pengacau dalam kegagalan keuangan adalah HUTANG. Sebetulnya, sah-sah saja berhutang jika digunakan bukan untuk hal yang konsumtif ya!

Itulah 3 prinsip keuangan setelah menikah yang saya dan pasangan pegang. Sebetulnya masih banyak prinsip dasar lainnya yang bisa dijadikan pedoman dalam mengatur keuangan. Apa saja prinsipnya, asal disepakati bersama pasangan, tentu akan lebih baik.

Mengatur Keuangan Keluarga

Setelah mempunyai prinsip bersama pasangan yang sejalan dalam hal keuangan, kini saatnya menjalankan prinsip-prinsip tersebut.

Nah, bagaimana menjalankannya agar dapat maksimal? Sudah pasti perlu kerjasama. 3 Hal di bawah ini yang saya dan pasangan coba lakukan berdasarkan yang kami pelajari dari beberapa pakar keuangan.

1. Menentukan Hak dan Kewajiban

Hal penting yang saya pelajari dari masalah keuangan adalah terbuka. Terbuka soal penghasilan adalah kunci dari ketentraman kehidupan berumah tangga, hehe.. salah satunya ya 😉

Dari keterbukaan tersebut, kita juga dapat menentukan kewajiban dan hak yang seharusnya dilakukan atau diperoleh pasangan. Yaitu mengenai siapa yang wajib mencari penghasilan.

Secara kodratnya, memang suami yang wajib mencari penghasilan, namun kini sudah banyak juga istri yang mempunyai penghasilan sendiri. Hal - hal demikian ini yang terlihat sepele, namun penting untuk diperjelas peruntukkan dari penghasilan tersebut.

Misalnya, jika memang penghasilan suami masih dapat mencukupi semua kebutuhan, maka penghasilan istri hanya sebagai tambahan. Atau bisa saja penghasilan istri diserahkan sepenuhnya pada istri. Atau mungkin penghasilan istri dapat dijadikan investasi masa depan. Sepele tapi penting ditentukan 😉 Wahai para istri, kalian pilih yang mana? hihi..

2. Kesepakatan Keuangan

Kesepakatan keuangan disini, lebih pada menyikapi pencapaian target atau keinginan. Kalau saya dan pasangan selalu sepakat, untuk memenuhi hal - hal yang sifatnya 'reward' untuk diri sendiri adalah dari adanya tambahan penghasilan. Dan tentu saja tidak perlu dilakukan rutin.

Misalnya, jika ada bonus dari pekerjaan, bisa lah beberapa persennya untuk membeli keinginan kita 😊. Rasanya hal ini perlu ya, agar tidak terlalu monoton berada dalam roda keuangan, hehe..

3. Review Keuangan Berkala

Dalam menjalankan prinsip keuangan setelah menikah dan mengatur keuangan keluarga, tentu saja tidak mudah kan. Apalagi jika penghasilan bulanan tidak tetap. Atau masalah penghasilan yang lebih kecil daripada kebutuhan.

Hmm, jadi apa yang perlu dilakukan?

Review keuangan berkala dapat menjadi sedikit solusi untuk mengetahui kondisi keuangan keluarga. Penting untuk bisa mengambil keputusan dalam mengubah alokasi budget. Mulai dari jumlah yang dipas-pas-kan atau bisa juga alokasi keuangan yang dihilangkan untuk pengeluaran yang bukan kebutuhan.

Kesejahteraan Keluarga Berawal dari Pengelolaan Keuangan Keluarga yang Tepat


Nah, inilah tujuan akhir dari belajar mengelola keuangan dan menerapkannya, adalah agar tercipta keluarga yang sejahtera. Mengapa demikian? Tentu saja, dengan memegang prinsip keuangan setelah menikah yang disepakati bersama pasangan, akan menimbulkan rasa keterbukaan dan percaya.

Selamat mengatur keuangan keluarga, semoga berhasil!

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.