Tips Tetap Waras Mengasuh Anak Tanpa Pengasuh

Berikut ini adalah berdasarkan dari pengalaman nyata yang saya alami selama menjadi seorang ibu sejak tahun 2018. Tenang, ini bukan berisi tentang keluhan menjadi seorang ibu yang pasti rasanya ya, sama saja! hehe.. Mungkin sekedar ingin berbagi, kalau ternyata menjadi ibu tak semudah membalikkan tangan, pantas saja hadiahnya 'surga'. 😉 Bisa dibilang, ini tips dari saya agar tetap waras saat mengasuh anak tanpa pengasuh.


Mohon maaf, kali ini ceritanya dari saya, si ibu rumah tangga, yang dua puluh empat jam dalam sehari hanya di rumah bersama anak (masih) satu, usia hampir tiga tahun. Dan tanpa pengasuh atau asisten yang membantu.


Dan merantau jauh dari orang tua yang beda kota sekitar 6 jam jarak tempuh darat. Jauh juga dari mertua, meski hanya beda kota 2 jam perjalanan via tol. Dan jauh sanak saudara atau teman-teman dekat. Semua yang saya temui di lingkungan tempat tinggal saya ini adalah orang-orang baru.


Jadi, untuk para ibu dengan versi lain, silahkan berbagi di comment postingan ini boleh saja, jika ingin menambahkan sesuatu. Atau tidak setuju dengan apa yang saya utarakan.


Menikmati Masa Mengasuh Anak

Berawal dari komitmen saya dan suami untuk mengasuh anak sendiri, jadi kami juga tidak ada niatan untuk cari pengasuh lain. Saya memutuskan untuk berhenti bekerja dari kantor setelah si anak lahir. Kami mengusahakan mengurus anak kami sendiri tanpa bantuan orang lain, siapapun.

Mengasuh Anak Tanpa Pengasuh
Tetap Waras Mengasuh Anak Tanpa Pengasuh (design by catatanatiqoh via Canva)


Tentu saja, hari-hari berjalan tidak gampang. Kadang ada satu hari dimana anak rewel tiap saat, dan kami sibuk sendiri-sendiri dengan kesibukan kami. Tapi, kadang semuanya terasa lebih nyaman karena kami lalui bersama. Tumbuh bertiga ini, bikin kami jadi lebih mandiri. Saya dan pasangan kerja sama untuk mengurus segala sesuatunya. Kuncinya sebenarnya cuma satu biar kami merasa nyaman bersama, ya menikmati masa-masa ini.


Kami percaya waktu cepat berlalu, apalagi lihat perkembangan anak, rasanya cepat sekali. Moment semacam ini yang bikin kami jadi maunya terus sama-sama. Walaupun pasti tidak gampang.


Nah, jadi gimana biar bisa menikmati masa-masa mengasuh anak dengan nyaman?


1. Penuhi Kebutuhan

Sudah hapal kan pasti, kalau anak rewel itu tandanya membutuhkan sesuatu. Nah, jadi yang pertama agar anak nyaman dengan kami, ya penuhi kebutuhan si anak.


Kadang, anak cuma butuh kehadiran kami untuk menemaninya. Meski, iya suliiiit sekali untuk bisa sepenuhnya menemani anak pas main. Kerjaan lain kadang udah nungguin. Belum lagi kebutuhan kita sendiri yang juga belum terpenuhi.


Jadi bagaimana? Ya tentu saja, kami akan prioritaskan untuk kebutuhan anak. Nah, kalau anak sudah tenang karena kebutuhannya terpenuhi, itu juga ternyata bikin kami lebih tenang,


Kalau untuk kami? Kami bergantian untuk memenuhi kebutuhan kami sendiri atau anak. Jika anak ingin Ibu yang menemaninya, Ayah yang akan menggantikan mengerjakan kebutuhan kami yang lain. Dan sebaliknya. Terlihat mudah teorinya, tapi butuh sabar yang tinggi, hehe..


2. Mendampingi Dalam Setiap Waktu

Hal ini sudah pasti yang diinginkan setiap orang tua. Selama masa pertumbuhannya, kami selalu mencoba untuk mendampingi. Bukan berarti terlalu larut dengan dunianya. Apalagi di usia anak saya saat ini, dia sedang ingin banyak mencoba banyak hal. Saya hanya membiarkannya dan berusaha mendampingi.


Apa makna mendampingi? Bagi saya, mendampingi berarti menyertainya. Ada di saat dia membutuhkan, tapi bukan selalu ikut campur dengan dunianya. Apalagi kadang dia mulai mau belajar atau bermain sendiri, ya sudah biarkan si anak mengeksplorasi dunianya sendiri. Ini yang perlu juga dinikmati dalam mengasuh anak.


3. Ajak Beraktivitas Bersama

Karena hanya tinggal bertiga saja, jadi mau tidak mau semua aktivitas kami lakukan bersama. Apalagi kalau harus ditinggal suami berminggu-minggu. Saya hanya berdua saja dengan anak. Jadi agar bisa menikmati bersama keseharian kami, saya selalu melibatkan anak untuk ikut serta beraktivitas.


Mulai dari membereskan rumah, menyiapkan makanan, atau hanya sekedar melakukan hobi bersama, seperti membaca atau olahraga. Meski semuanya sudah bisa ditebak kalau tidak akan berjalan sempurna, hehe..


Pilihan Mengasuh Anak Tanpa Pengasuh

Keputusan ini tentu saja bukan perkara mudah. Banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelum memutuskan akan dibantu oleh pengasuh atau tidak.


Tapi bagi kami, tidak ada yang lebih baik untuk mengasuh anak kami selain, ya kami sendiri orang tuanya.


Kami hanya perlu bersabar, jika banyak kesempatan untuk kami terlewatkan. Sudah memutuskan untuk siap menjadi orang tua, jadi harus tanggung jawab dengan peran itu.


Tapi, hal itu tentu saja disesuaikan dengan kebutuhan setiap keluarga. Tidak berarti yang menyerahkan anaknya full pada pengasuh itu tidak tanggung jawab. Tanggung jawab dapat diartikan masing-masing sesuai keadaan. Jadi berusaha sebaik mungkin untuk anak, itu ya sesuai dengan kondisi kita, orang tuanya. Tidak ada yang perlu dipaksakan.


Nah, dari yang saya rasakan dengan memilih mengasuh anak tanpa pengasuh, ada keuntungan dan kerugiannya juga, seperti:


Keuntungan yang sudah pasti didapatkan, akan lebih dekat dengan anak, tentu saja. Anak terbiasa dipenuhi kebutuhan dan didampingi oleh kita. Kemudian, kita juga bisa memberikan perawatan terbaik untuk anak.


Jika 24 jam bersama anak, tentu saja pilihan-pilihan untuk melakukan hal-hal yang berhubungan dengan anak bisa kita lakukan secara maksimal. Apalagi sekarang segala informasi tumbuh kembang anak mudah didapatkan, salah satunya dengan aplikasi dari chai's play.


Apalagi semua hal tentang anak bisa jadi keputusan kami sendiri, tanpa campur tangan orang lain. Hal ini yang saya rasa jadi kepuasan tersendiri.


Keuntungan terakhir yang saya rasakan, lebih HEMAT bund! hehe.. Namun dari keuntungan itu, tentu saja ada juga kekurangan yang terasa. Waktu 24 jam rasanya kuraaaaaang, dan sudah pasti tidak banyak waktu untuk bisa menikmati hidup sendiri.


Nah, jadi pilihan untuk mengasuh anak dengan pengasuh atau tidak, harus benar-benar diputuskan bersama pasangan. Agar kekurangan yang dirasakan bisa dipenuhi bersama.


Tips Tetap Waras Mengasuh Anak Tanpa Pengasuh

Jadi, apakah pilihan mengasuh anak tanpa pengasuh membuat kami lebih bahagia? Hmm.. bisa jadi iya, bisa juga tidak, hehe.. tergantung saat ada di situasi mana. Tapi kami selalu berusaha untuk terus merilis perasaan negatif kami agar tidak berpengaruh pada anak.


1. Kerjasama Dengan Pasangan

Melakukan semuanya sendiri tentu saja sudah tidak mungkin. Jadi, harus kerja sama dengan baik sama pasangan.


Kadang, kalau harus ditinggal suami dinas dan hanya berdua dengan anak, saya selalu memprioritaskan mana saja yang harus dikerjakan dulu. Seperti masak makanan sehat untuk anak sudah pasti akan dikerjakan harian, jika masalah cucian baju kotor, mungkin bisa 2 - 3 hari sekali, dan hal-hal lain yang bisa dikerjakan 'nanti' dulu.


Tapi, kalau sedang ada pasangan, semua bisa dikerjakan bersama atau bergantian. Itu yang menjadikan kami akhirnya lebih waras tanpa pengasuh. Karena ya, masih bisa dikerjakan bersama pasangan.


Kalaupun tidak, kami memilih untuk mengambil jasa lain. Misalnya untuk keperluan setrika baju, ada laundry yang siap menampung. Kalau sudah terlalu lapar tapi belum ada makanan untuk kami, ada warung dekat yang masak tiap hari. Dan lain-lainnya, yang sebetulnya tidak perlu diambil pusing. Semuanya masih bisa juga disesuaikan dengan budget. Jadi, bakal tetap waras karena ini, hehe..


2. Tinggalkan Kesempurnaan

Awal tahun menjadi ibu, saya selalu merasa semuanya harus sempurna. Sempurna dalam arti saya adalah anak ter'urus' dan keperluan lainnya juga. Bangun dari pagi buta demi mengerjakan semuanya, yang kini saya rasa bisa dikerjakan beberapa hari sekali, tidak perlu setiap hari. Tidur sampai larut malam hanya demi melihat rumah selalu bersih dan rapi.


Dan kesempurnaan lainnya yang pada dasarnya terkadang ingin dilakukan hanya karena omongan orang lain, hihi..


Kini? Saya mulai bersahabat dengan ketidaksempurnaan. Bahkan, saya sudah berani untuk mengambil pekerjaan lain untuk kesibukan di rumah. Saya merasa menjadi ibu rumah tangga, bukan berarti harus terus bergelut dengan pekerjaan rumah tangga saja. Banyak hal lain yang juga masih bisa dipelajari. Hal ini juga membuat saya belajar mengelola dan memanfaatkan waktu dengan baik.


Bagi saya, anak tetap prioritas, namun pekerjaan rumah lain, sesuaikan saja dengan kebutuhan.


Bangun pagi buta kini saya lakukan untuk memberikan saya waktu 'me time' dengan pekerjaan saya. Mempunyai pekerjaan lain selain pekerjaan rumah tangga ini, rasanya membuat saya tetap waras untuk mengurus anak meski tanpa pengasuh. Iya, meski semuanya tidak bisa sempurna hasilnya.


3. Cari Pertolongan

Tidak dipungkiri memang, terkadang semuanya sudah terasa kacau. Apalagi kalau saya dan pasangan yang sudah mulai lelah dengan 'pekerjaan kami yang lain'. Kalau sudah begini, kami tidak sungkan untuk mencari pertolongan.


Pertolongan ini akan kami cari dengan banyak bentuk. Misalnya, berlibur sebentar ke rumah orang tua, ini membantu kami kembali waras menghadapi semuanya. Atau kami staycation, hanya untuk kembali fokus menikmati waktu bersama anak tanpa memikirkan pekerjaan lain.


Atau, jika sudah terlalu lelah dengan kondisi rumah, kami hanya sekedar keluar mencari udara segar. Demi untuk mengembalikan kewarasan kami semua.


Saya dan pasangan selalu rutin melakukan hal ini, bukan hanya untuk menyelamatkan kami agar tetap waras, tapi juga menyelamatkan anak kami agar tetap merasa diperhatikan.


Jadi, kembali lagi ya, semuanya adalah pilihan, ingin mengasuh dengan bantuan pengasuh atau tidak. Semuanya akan ada kurang dan lebihnya. Kalau kami tujuannya memang ingin moment mengasuh anak yang tidak akan terulang ini bisa kami nikmati bersama. Nah, tips tetap waras mengasuh anak tanpa pengasuh di atas, semoga bisa menjadi pilihan bagi yang bernasib sama dengan kami. Love!

19 komentar:

  1. Waktu aku baru lahir sampai usia 2tahun ibuku berhenti kerja, katanya walaupun capek tapi melihat perkebunan anak dan jadi dekat sama anak worth it. Kalau sibuk banget ibuku minta bantuan Art harian untuk kerjaan rumah dan ibuku ngurusin aku 😄 semoga mba sekeluarga sehat selalu ya, aamiiy

    BalasHapus
  2. Sama banget sama aku 24 jam bersama anak di rumah. Hehehe luarbiasa ya mba. Aku dulu waktu anak-anak baby pake pengasuh tapi semenjak usia anak ku 1 tahun Ku ngasuh sendirian. Awalnya berat banget tapi sekarang udah terbiasa.

    BalasHapus
  3. aku sempat nyari pegasuh gitu mba, tapi karena aku dan suami introvert dan kurang nyaman jika di rumah ada orang lain, kami memilih mengurus berdua aja deh hehehe.

    BalasHapus
  4. Sejk anak pertama sampai yang sekarng ini, aku nggak pakai pengasuh kak. Kuncinya mamak kudu makan jangan sampai kelapern nanti bisa tantrum ehehehe.
    Satu lagi benar tuh kak, kompak sama pasangan di rumah ya

    BalasHapus
  5. Lagi adaptasi juga nih karena pengasuh yang sudah bertahun-tahun resign sedangkan kerjaan kantor dan belajar dari rumah tetap jalan terus... Bener, salah satu kuncinya adalah kompak dengan suami. Walaupun kalau udah kompak empat-empatnya jadwal zoom semua yang harus interaktif (bukan cuma dengerin materi) ambyar juga haha.

    BalasHapus
  6. Tetap waras mengasuh anak tuh kuncinya adalah kerjasama dengan suami, jadi biar sama - sama enaknya kalau kompak

    BalasHapus
  7. Tos dulu mbak, aku pun di rumah gak pakai ART dan semua dikerjakan sendiri. Selama ini enjoy banget sih mengerjakan semuanya, belum ada kerjaan yang harus dikerjakan di rumah. Aku selalu bikin manajemen waktu juga.

    BalasHapus
  8. I am in Mbak! Suamipun sering dinas. Hehe. Tanpa pengasuh itu plus minus meski aku tetap bertahan dengan tanpa pengasuh hehe. Btw aku suka sering ditinggal dinas suami, biasanya ngungsi ke kota domisili ortu tapi sejak pandemi pure d rumah ajaa

    BalasHapus
  9. Aku juga udah hampir 7 tahun tanpa ART di rumah. Sebenarnya pengen sih punya ART, tapi susah cari yang setia, baru 1-2 bulan minta berhenti. Ya sudahlah, aku aja yang sendiri.

    BalasHapus
  10. saya pun juga mengasuh anak-anak sendiri Mbak, tanpa pengasuh.
    kadang sih merasa gak waras, apalagi kalau anak-anak yang tingkahnya luaarrr biasssaaa, yasudahlah dijalani saja, toh anak-anak gak selamanya kecil gini, gak lama lagi mereka pada besar dan suatu hari malah merekalah yang merawat orangtua nya :)

    tetap dinikmati dan disyukuri, biar tetap waras sih memang harus meninggalkan kesempurnaan itu, gak apa-apa deh lipatan menggunung, cucian numpuk dieksekusinya 2-3 kali seminggu yang penting gak was-was juga karena anak-anak berada di tangan sendiri :)

    BalasHapus
  11. Harus dinikmati ya dengan bahagia sebagai tanda syukur juga sambil merekatkan lagi kebersamaan

    BalasHapus
  12. Mba Tiqoh makasih banget tipsnya ya, buat yang belum punya anak kayak aku jadi belajar
    kalo mertuaku udah sepuh nggak bisa bantuin, beliau juga udah nggak bisa apa-apa, palingan ibuku tak boyong ke sini hehehe

    BalasHapus
  13. Iyes, tipsku dalam mengasuh anak tanpa ART, selama ini kurang lebih sama. Kerjasama dengan pasangan, gak sempurna, dan cari bantuan jika dibutuhkan. Bantuan ini nih yang kayaknya buat aku menolong banget. Alahmadulillah banget, waktu anak-anak masih kecil, kakek dan neneknya masih pada sehat dan fit, jadinya mereka sangat seneng ikut ngasuh. Semangat ya buat para orang tua dalam mengasuh anak-anak :)

    BalasHapus
  14. Satu kata untukmu mbak: kamu HEBAT. Eh, atau dua kata ya itu? 😆 Kebayang deh gmn suntuknya tp ya mau gak mau harus kayak gt setiap waktu. Semoga sehat selalu ya mbak..

    BalasHapus
  15. Salut deh mba sama orang2 yg bisa mengasuh anak2 tanpa bantuan pengasuh. Semoga lelahnya Lillah dan jd ladang pahala para orangtua, aamiin

    BalasHapus
  16. Aku juga termasuk yg merasa gak enak kalo ada orang lain di rumah. Jadinya, pilihan tanpa pengasuh itu tepat. Tetep semangat kak! Be happy all the time!

    BalasHapus
  17. Sesama IRT tanpa pengasuh, mau tak mau memang harus menerima diri untuk menurunkan beberapa standar kerapihan or kesempurnaan. Tetap semangat, sehat dan jangan lupa selalu membahagiakan diri sendiri di tengah hiruk pikuk domestik yaa ;)

    BalasHapus
  18. Benar banget nih Mba, kerjasama dengan pasangan dalam merawat anak dan mengerjakan pekerjaan rumah itu penting banget deh. Saya sendiri begitu, saya pun merasa jadi lebih kompak sama anak-anak dan pasangan.

    BalasHapus
  19. Alhamdulilah aku mengasuh anak-anak sendiri. Cuma 5 tahun aja repotnya. Setelah masuk TK, udah lebih ringan. Sekarang aku udah punya banyak waktu buat mengembangkan hobi.

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.